Donald Trump kembali melontarkan kritik pedasnya, kali ini menyasar imigran asal Somalia. Dalam sebuah rapat kabinet di Gedung Putih, Selasa lalu, mantan presiden AS itu dengan tegas menyatakan mereka seharusnya tak diterima di Amerika Serikat.
Ucapan Trump ini muncul berbarengan dengan terungkapnya sebuah skandal besar di Minnesota. Menurut jaksa penuntut di sana, lebih dari satu miliar dolar AS dikucurkan untuk layanan sosial fiktif. Skema penagihan palsu itu diduga banyak melibatkan warga Amerika keturunan Somalia.
"Di Somalia, mereka tidak punya apa-apa," ujar Trump, suaranya terdengar keras.
"Mereka hanya berkeliaran saling membunuh."
Dia kemudian menambahkan, "Negara mereka tidak baik karena suatu alasan. Negara mereka busuk, dan kita tidak ingin mereka berada di negara kita."
Ini bukan kali pertama Trump membuat pernyataan kontroversial soal kelompok minoritas. Karir politiknya justru banyak dibangun dari narasi-narasi seperti ini. Ingat saja teori konspirasi soal tempat lahir Barack Obama yang dia gembar-gemborkan bertahun-tahun lalu.
Pola seperti ini terasa konsisten. Trump kerap menyentuh kekhawatiran terselubung di kalangan sebagian warga kulit putih, tentang pergeseran budaya dan ancaman terhadap dominasi politik yang mereka rasakan. Gaya bicaranya yang blak-blakan, meski kerap memicu polemik, justru menjadi magnet bagi basis pendukungnya.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi