Kabar tentang tantangan hafalan Surat Ad-Duha yang dikaitkan dengan hadiah minuman keras dalam rangkaian The Sounds Project memicu pertanyaan mendasar: mengapa ayat Al-Qur'an dipakai untuk mempromosikan miras? Persoalan ini bukan soal festival musik, melainkan penggunaan simbol suci dalam promosi komersial yang dinilai tidak pantas.
Bagi seorang Muslim, Surat Ad-Duha bukan sekadar deretan ayat untuk kuis. Menghafalnya adalah bagian dari interaksi dengan kitab suci, sementara minuman keras memiliki posisi yang bertolak belakang dalam ajaran Islam. Mempertemukan keduanya menciptakan benturan yang terang. Jika ada gagasan seni atau satire di baliknya, perlu dijelaskan. Namun, jika tujuannya hanya membuat promosi terlihat nyentrik dan viral, publik berhak mempertanyakan apakah kreativitas harus sampai ke sana.
Al-Qur'an memiliki tempat khusus dalam kehidupan umat Islam. Memakainya sebagai bagian dari promosi membutuhkan kepekaan lebih besar daripada simbol budaya populer biasa. Industri kreatif memang butuh keberanian, tetapi keberanian tidak sama dengan menabrak hal sensitif. Ada perbedaan antara karya yang mengusik pikiran dengan gimmick yang mengandalkan kejutan.
Pernyataan Rofik Hananto dari Fraksi PKS DPR RI membawa persoalan ini ke ranah serius. Ia mengecam penggunaan hafalan Surat Ad-Duha dalam promosi minuman keras Newport dan menilai tindakan tersebut melecehkan Al-Qur'an. Rofik mendorong aparat penegak hukum memproses pihak yang bertanggung jawab serta meminta pemerintah daerah mengevaluasi penyelenggaraan acara. Sikap ini patut dibaca sebagai kritik politik terhadap penggunaan simbol agama dalam promosi komersial, meskipun istilah hukum seperti dugaan penistaan agama harus dibuktikan melalui proses hukum, bukan diputuskan oleh kemarahan publik.
Kemarahan boleh, kritik boleh, bahkan laporan hukum boleh ditempuh jika ada dugaan pelanggaran. Tetapi jangan sampai kemarahan berubah menjadi main hakim sendiri. Jika ada dugaan tindak pidana, biarkan aparat memeriksa. Jika ada pelanggaran administratif, biarkan mekanisme pemerintahan bekerja. Jika video yang beredar tidak menggambarkan konteks sebenarnya, penyelenggara punya hak untuk menjelaskan. Dengan begitu, persoalan tidak berhenti sebagai perang komentar antara yang tersinggung dan yang menganggap semuanya bercanda.
Tanggung jawab penyelenggara juga perlu dibicarakan. Dalam festival besar, aktivitas di area acara tidak bisa dianggap sebagai urusan kecil yang terpisah. Publik melihat keseluruhan acara sebagai satu kesatuan. Di zaman TikTok dan Instagram, satu aktivitas kecil bisa menjadi wajah sebuah festival dalam hitungan jam. Orang yang tidak pernah datang ke Ancol bisa mengenal The Sounds Project justru dari satu video kontroversial.
Manajemen reputasi seharusnya tidak kalah penting dari manajemen panggung. Panitia mungkin sudah berbulan-bulan menyiapkan musisi, tata suara, keamanan, tiket, dan sponsor. Tetapi semua kerja keras itu bisa tertutup oleh satu konsep promosi yang tidak dipikirkan matang. Dunia digital memang kejam dalam urusan seperti ini. Penonton tidak melihat rapat panitia, mereka melihat hasil akhirnya.
Kasus ini tidak seharusnya berubah menjadi serangan terhadap musik. Musik tidak otomatis bertentangan dengan agama. Festival musik bukan ruang yang steril dari keberagaman. Banyak Muslim menikmati musik dan tetap menjalankan agamanya. Persoalannya bukan orang bernyanyi atau berjoget, melainkan penggunaan hafalan Al-Qur'an sebagai bagian dari promosi minuman keras.
Sebenarnya dunia kreatif tidak kekurangan pilihan untuk promosi yang unik. Tantangan membuat lirik, permainan musik, cosplay, kuis pengetahuan umum, atau kompetisi kreatif bisa dilakukan tanpa membawa kitab suci ke dalam promosi miras. Jadi persoalannya bukan tidak ada alternatif, tetapi mengapa pilihan yang paling sensitif justru dipilih.
Mungkin ada yang mengatakan, "Ini cuma gimmick." Justru kata itulah yang perlu dipertanyakan. Gimmick seharusnya membantu memperkuat pesan acara atau produk, bukan menghilangkan rasa hormat terhadap sesuatu yang sakral. Jika sebuah gimmick membuat orang lupa pada produk dan sibuk memperdebatkan kepantasannya, mungkin ada yang salah dalam perencanaannya.
Viral bukan ukuran tunggal keberhasilan. Sebuah konten bisa mendapatkan jutaan penonton karena dianggap lucu, tetapi bisa pula karena publik marah. Angka tayangan tidak menjelaskan alasan orang menonton. Dalam pemasaran, perhatian memang penting, tetapi reputasi jauh lebih sulit diperbaiki jika sudah rusak.
Karena itu, saya memahami mengapa Rofik Hananto memilih bersuara keras. Sebagai anggota DPR RI, ia punya ruang untuk menyampaikan kritik terhadap persoalan yang menyentuh kepentingan publik. Namun setelah pernyataan politik keluar, tahap berikutnya harus tetap berada di tangan lembaga yang berwenang. Jika ada unsur pidana, periksa. Jika tidak memenuhi unsur, jelaskan. Jangan hukum bekerja melalui tekanan massa.
Pada saat yang sama, penyelenggara dan pihak terkait sebaiknya tidak berlindung di balik alasan kreativitas. Dunia kreatif justru membutuhkan keberanian untuk mengatakan bahwa sebuah ide ternyata tidak tepat. Mengoreksi konsep bukan kekalahan. Meminta maaf bukan kehancuran reputasi. Kadang satu kalimat pengakuan jauh lebih menyelesaikan persoalan daripada sepuluh paragraf pembelaan.
Kita tidak perlu memilih antara agama dan kebebasan berekspresi. Keduanya bisa hidup berdampingan jika masing-masing memahami batasnya. Seniman tetap bebas berkarya, penyelenggara tetap bebas membuat festival, masyarakat tetap bebas menikmati musik, dan umat beragama tetap berhak menyampaikan keberatan jika simbol yang mereka hormati dipakai secara tidak pantas.
Yang perlu kita tolak bukan kreativitas, melainkan kemalasan berpikir yang sering disamarkan sebagai kreativitas. Jika benar hafalan Surat Ad-Duha dipakai untuk mendapatkan hadiah miras, pertanyaan paling sederhana justru menjadi yang paling sulit dijawab: apa sebenarnya yang ingin dijual, minumannya atau kontroversinya?
Sebab jika sebuah produk harus meminjam ayat suci untuk mendapatkan perhatian, mungkin masalahnya bukan pada masyarakat yang terlalu sensitif. Bisa jadi memang konsep promosinya yang sejak awal tidak cukup kreatif. Dan jika sebuah festival ingin dikenang karena musiknya, musisinya, dan pengalaman penontonnya, rasanya tidak perlu menjadikan Al-Qur'an sebagai taruhan demi sebuah gimmick. Kreativitas tidak harus kehilangan rasa hormat untuk menjadi berani.
Artikel Terkait
Rumah MC Challenge Hafalan Al-Quran di Ancol Didatangi Massa, Polisi: Salah Alamat
Aldi Taher Minta Maaf Usai Terobos Panggung JET dan Peluk Nic Cester
Viral Challenge Hafal Ayat Suci di Booth Miras, Polisi Selidiki dan Gubernur Minta Tindakan Tegas
Polisi Selidiki Dugaan Penistaan Agama di Festival Musik Ancol