Serangkaian serangan yang menewaskan sejumlah pemimpin Iran memunculkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya diraih Amerika Serikat dari tindakan tersebut? Alih-alih melemahkan Republik Islam, berbagai indikator justru menunjukkan posisi AS yang semakin terdesak di kawasan.
Sebelumnya, kapal-kapal AS bebas melintasi Selat Hormuz. Kini, akses itu tertutup. Pangkalan militer AS yang dulu tersebar di negara-negara Teluk, satu per satu mulai goyah. Bahkan, inspeksi IAEA terhadap aktivitas nuklir Iran yang dulu berjalan rutin, kini tidak lagi dimungkinkan.
Di sisi lain, upaya AS memprovokasi kerusuhan internal di Iran juga gagal. Masyarakat Iran justru semakin kompak mendukung pemerintahnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tujuan awal AS yang ingin menumbangkan rezim dari dalam.
Yang lebih mencolok, AS hingga kini belum mampu menundukkan Iran, meski dengan melibatkan banyak negara. Pemimpin Iran yang jarang muncul ke publik justru membuat AS kewalahan. Apakah ini tanda kekuatan atau justru kelemahan AS?
Bahkan, mantan Presiden AS Donald Trump yang dulu turun dari pesawat dengan penuh percaya diri, kini harus berlindung di balik truk katering saat berkunjung ke kawasan. Ironi ini seakan menggambarkan betapa berbedanya posisi AS sekarang.
Artikel Terkait
Pezeshkian: Saatnya Akhiri Perang, Iran di Posisi Kuat
Iran Siap Perluas Serangan ke Pangkalan AS di Eropa
Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi Tiga Pekan di Tengah Ketegangan AS-Iran
Trump Desak Iran Menyerah, Teheran Balas dengan Ejekan