Perajin Kudus Buat Siluet Wajah Jokowi dan Soekarno dari Limbah Spons Sandal

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 00:06 WIB
Perajin Kudus Buat Siluet Wajah Jokowi dan Soekarno dari Limbah Spons Sandal

Nunung Ervana (43), perajin siluet dan peci goni asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki karya yang sempat menghiasi perhelatan G20 pada 2022 lalu. Salah satu karyanya yang paling diminati adalah siluet wajah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Di tempat produksinya yang berlokasi di RT 1, RW 4, Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kudus, Nunung mengolah limbah spons sandal dan karung goni menjadi beragam produk bernilai seni. Pada 2022, ia terpilih mewakili UMKM Kudus untuk memeriahkan G20 di Hotel Tentrem, Yogyakarta. Salah satu produk yang dibawanya adalah siluet wajah Jokowi yang saat itu masih menjabat sebagai presiden.

"Saya hanya buat satu wajah siluet wajah pak Jokowi karena ada permintaan dari Kemenaker saat itu. Kami sebagai pelaku UMKM diminta bikin produk khas anak bangsa," katanya saat ditemui di kediamannya, Selasa (11/8).

Siluet wajah Jokowi sempat ditawar oleh delegasi negara-negara peserta G20. Namun, karena hanya dibuat satu buah, Nunung tidak bisa menjualnya. "Kalau saat itu yang minta pak Jokowi malah saya kasih. Tetapi karena dari negara lain dan hanya ada satu sebagai contoh, saya tidak bisa menjualnya. Kalau mau pesan dulu saya buatkan," sambungnya.

Selain Jokowi, Nunung juga membuat siluet wajah Presiden pertama RI, Soekarno. Produk ini lahir atas permintaan Gubernur Jawa Tengah saat itu, Ganjar Pranowo. Siluet Soekarno juga turut dipamerkan dalam acara G20 empat tahun silam. "Ada masukan dari pak Ganjar, diminta bikin siluet wajah Soekarno," terangnya.

Mengolah Limbah Menjadi Karya

Nunung yang juga pemilik Sentra Pengrajin Goni dan Pandan Nuswantoro ini sejak 2023 berfokus membuat kerajinan dari limbah spons sandal. Ia kerap berkolaborasi dengan kelompok UMKM bernama Pemuda Kreatif Kudus. Selain tokoh nasional, ia juga membuat siluet ulama seperti KH Maimoen Zubair dan Hasyim Asy'ari, serta kaligrafi.

Pilihan mengolah limbah spons sandal didasari keinginannya mengurangi tumpukan sampah. "Limbah sandal spons ini saya ambil di pengepul di Kudus. Di situ ada banyak limbah seperti spons sandal, bahan tas dan lainnya. Saya ambil limbah spons sandalnya," ucapnya.

Produk siluet berbahan spons sandal memiliki keunggulan awet dan warnanya tidak mudah pudar. Konsumen juga bisa memesan sesuai keinginan. "Saya juga ada produk kaligrafi dari siluet berbahan dasar spons sandal. Kemudian saya beri warna menggunakan cat lukis agar tidak hanya warna hitam saja yang muncul," jelas Nunung.

Siluet tersebut kadang dikombinasikan dengan karung goni sebagai latar belakang. Satu siluet wajah dapat diselesaikan dalam tiga hari, tergantung tingkat kerumitan. Harganya bervariasi, mulai Rp350 ribu hingga Rp400 ribu untuk ukuran 45x55 sentimeter. Konsumen bebas memilih pigura sesuai selera. Pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Peci Goni Tembus Pasar Internasional

Selain siluet, Nunung juga mengolah limbah karung goni yang biasa digunakan pabrik rokok untuk menyimpan tembakau menjadi peci, topi, dan tas. "Selain pengembangan produk, alasan membuat produk siluet karena ingin memberdayakan teman-teman pelaku UMKM, seniman siluet wajah, kaligrafi dan lukis," ujarnya.

Tantangan dalam membuat peci goni adalah proses penjahitan karena tekstur karung yang tidak rata. Karung juga harus dibersihkan terlebih dahulu untuk menghilangkan bau tembakau. Harga peci goni berkisar Rp25 ribu hingga Rp85 ribu per pcs, topi goni Rp100 ribu per pcs, dan siluet wajah Rp350 ribu hingga Rp2 jutaan.

Pemasaran produk Nunung telah menjangkau seluruh Indonesia dan mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Mesir, dan Belanda. Berkat kreativitasnya, ia meraih juara 1 Produk UMKM Kreatif Indonesia dari Kemenaker dan karyanya tampil di ajang G20.

"Ke depannya saya dan juga teman-teman akan terus menekuni usaha kerajinan ini. Apalagi kami besar dari kerajinan ini. Harapan kami dari UMKM ini dapat membangkitkan perekonomian bangsa," pungkasnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags