Dalam panggung politik nasional, dua kekuatan besar kembali mempertunjukkan adu strategi. Kubu yang disebut 'Solo' mengandalkan kartu video mesra yang melibatkan Buna dan Gemoy, sementara kubu 'Hambalang' memilih kartu ijazah sebagai senjata utama. Namun, efektivitas kedua kartu tersebut tidaklah setara.
Kartu video, meski sempat menggemparkan, mudah dipatahkan dengan dalih deep fake atau rekayasa AI. Sebaliknya, kartu ijazah jauh lebih sulit dibantah. Keunggulan inilah yang membuat Hambalang masih unggul dalam permainan kartu tersebut.
Meski demikian, dalam hal infrastruktur politik, Hambalang belum mampu menyalip Solo. Sebagian besar posisi kunci masih diisi oleh loyalis Solo. Namun, isu ijazah yang dianggap remeh ini ternyata mampu bertahan dua tahun dan membuat kubu Solo kewalahan. Hambalang dengan lihai memproteksi isu tersebut dengan dalih 'ini urusan hukum, tidak bisa diintervensi'.
Seberapa besar isu ini mengganggu Solo, terkonfirmasi dalam pernyataan terbaru seorang mantan Menkopolhukam dalam sebuah podcast. Ia secara eksplisit menyebut adanya 'barter' dalam kasus yang ditangani Jampidsus. Barter tersebut berupa pelepasan Roy dan Tifa, yang sebelumnya susah payah ditahan oleh aparat, namun tiba-tiba dilepas dalam hitungan hari.
Menariknya, kubu Solo diperkirakan akan segera merilis video mesra tersebut. Sebelumnya, saat Solo menggunakan 'proxy' AR, sempat terjadi kegemparan, namun baik BunTed maupun AR sama-sama tidak menaikkan eskalasi. BunTed tidak melaporkan AR, dan AR tetap menjaga hubungannya dengan Gemoy.
Publik kini tinggal menunggu kapan video itu akan dirilis. Hambalang pun dipastikan telah menyiapkan antisipasi dengan kembali mengangkat dalih deep fake atau AI. Pertarungan politik ini masih jauh dari kata usai, dan kedua kubu terus mengatur strategi untuk merebut simpati publik.
Artikel Terkait
Dokter Tifa Klaim Alami Penganiayaan dan Upaya Pembunuhan, Janji Bongkar Semua Pekan Ini
Arsip Ijazah Jokowi Disebut Hilang, Pengamat Geruduk KPU
Denny Indrayana Buka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah Asli Gibran
Dokter Tifa Bantah Tuduhan Pengecut, Sebut Hijrah untuk Perjuangan Baru