Pemerintah mengakui bahwa anggaran negara dan daerah tidak akan pernah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu, sektor swasta harus dilibatkan secara lebih besar melalui skema pembiayaan yang inovatif dan kredibel.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa target pembangunan yang ambisius menuntut investasi yang sangat besar. Ia menyebutkan, APBN dan APBD saja tidak akan mampu menutup kebutuhan tersebut, apalagi masih banyak prioritas lain yang harus dipenuhi.
“Target ini tentu membutuhkan investasi yang sangat besar dan kita juga memahami bahwa APBN dan APBD saja tidak cukup. Apalagi tadi banyak prioritas-prioritas lain yang harus juga dipenuhi. Karena itu, kita membutuhkan investasi swasta,” ujar AHY saat menghadiri Jakarta Asset Forum & Expo (JAFEX) 2026 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/8).
Menurut AHY, pemerintah perlu menyiapkan skema kerja sama yang kredibel untuk menarik investasi swasta. Pembiayaan inovatif harus dibangun dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas agar dapat membawa pembangunan jauh ke depan.
“Kita perlu memanfaatkan skema kerja sama antara pemerintah dan badan usaha, creative financing. Pembiayaan yang inovatif harus menjadi skema yang kredibel dan bisa membawa pembangunan jauh ke depan. Syaratnya harus transparan dan akuntabel,” katanya.
Dorong Pengembangan TOD
Selain pembiayaan, AHY juga menyoroti pentingnya pengembangan kawasan berbasis transit atau transit-oriented development (TOD) untuk mendukung pembangunan perkotaan. Menurutnya, aset pemerintah tidak cukup hanya dicatat secara administratif, tetapi harus mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Salah satunya dengan mengembangkan kawasan yang terintegrasi dengan transportasi publik.
“Menurut saya, sekarang kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih besar dan lebih strategis: apa manfaat yang bisa dihasilkan aset ini bagi masyarakat? What can this asset do for the public?” kata AHY.
Ia mencontohkan pengembangan TOD yang mengintegrasikan kawasan hunian, pusat kerja, hiburan, pendidikan, budaya, hingga transportasi. Konsep ini dinilai dapat membuat mobilitas masyarakat lebih efisien karena berbagai kebutuhan berada dalam satu kawasan yang terkoneksi dengan transport hub.
“Ini adalah sebuah konsep yang sudah seharusnya menjadi desain pembangunan wilayah perkotaan, bukan hanya Jabodetabek, tapi juga kota-kota besar lain di Indonesia,” ujarnya.
Menurut AHY, pengembangan TOD juga dapat membuka lapangan pekerjaan dan aktivitas ekonomi baru. Karena itu, pemerintah perlu mengubah pola pikir dari sekadar mengelola aset menjadi menciptakan nilai yang lebih besar dari aset tersebut.
Minta Birokrasi Jangan Persulit Investor
Di sisi lain, AHY meminta pemerintah memperbaiki birokrasi untuk memberikan kepastian bagi investor. Ia mengatakan investor membutuhkan kejelasan, kepastian hukum, proyek yang kredibel, serta keyakinan bahwa pemerintah mampu menjalankan rencana yang telah dibuat.
“Kepada para investor dan pelaku usaha yang hadir hari ini, saya ingin menyampaikan bahwa Indonesia bukan hanya menawarkan pasar yang besar, kami juga mengajak Bapak dan Ibu untuk menjadi bagian dari transformasi besar Indonesia,” tuturnya.
AHY menekankan pentingnya kepastian hukum dan pelayanan birokrasi yang responsif. Ia meminta agar investor tidak dipersulit atau ‘dipingpong’ ketika mengurus berbagai kebutuhan investasi.
“Yang mereka inginkan kepastian hukum. Yang mereka inginkan jangan dikerjain, jangan di-pingpong, jangan dibikin susah, jangan sampai ada yang mengatakan, ‘Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah?’,” kata AHY.
Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah memiliki pekerjaan rumah yang sama untuk membangun birokrasi yang responsif, adaptif, sekaligus mampu mengundang investasi.
“Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kota, semua punya PR yang sama, birokrasi yang responsif, yang adaptif, tapi juga yang inviting, yang mengajak atau mengundang potensi-potensi keuangan global, termasuk juga penanaman kapital atau modal yang memadai bagi pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
AHY: Jakarta Harus Perkuat Infrastruktur Hadapi Penurunan Tanah dan Naiknya Air Laut
AHY Ungkap Cita-cita Jadi Gubernur Jakarta di Hadapan Pramono Anung
Iti Octavia Jayabaya Kembali Pimpin Demokrat Banten, Terpilih Secara Aklamasi
Kader Kepala Daerah Demokrat Diminta Utamakan Kepentingan Rakyat dan Dukung Pemerintahan Prabowo