Kisah hidup Ruben Onsu kembali menjadi sorotan setelah potongan wawancara lawasnya viral di media sosial. Dalam wawancara itu, Ruben mengaku pernah dijauhi keluarga besar karena kemiskinan. Pengakuan itu muncul kembali di tengah kabar bahwa ia kini dijauhi keluarga setelah memutuskan menjadi mualaf.
Dalam sebuah podcast yang baru-baru ini tayang, Ruben Onsu mengungkapkan perasaannya yang mendalam. Ia mengaku sudah terbiasa tidak didengar dan tidak dilihat sejak kecil. Bahkan, ia menceritakan pengalaman pahit saat seorang teman makan di depannya tanpa berbagi, hingga akhirnya menjilati jari-jarinya sendiri karena lahapnya.
“Gue sudah biasa tidak didengar, sudah biasa tidak dilihat sejak kecil. Sudah biasa memendam masalah dan menyelesaikannya sendiri. Dulu, ada teman makan enak di depan gue. Berharap banget dicicipi, atau dikasih sedikit. Tapi sampai akhir, dia enggak nawarin gue. Sampai dia jilat-jilat tangannya saking enaknya,” ujar Ruben dalam podcast tersebut.
Pengalaman masa kecil yang pahit itu membawanya pada keyakinan untuk membahagiakan semua orang yang dikenalnya. “Akhirnya terbawa sampai sekarang, gue merasa wajib untuk membahagiakan semua orang yang gue kenal. Supaya enggak merasakan kepahitan yang sama seperti yang gue alami dulu,” tambahnya.
Kisah ini semakin mengharukan karena bertepatan dengan beredarnya cuplikan wawancara Ruben saat masih hidup susah. Dalam wawancara itu, ia bercerita tentang hidup di kos sempit hingga akhirnya mampu membeli rumah pertama. Ia juga pernah mengatakan, “Dulu gue dijauhi sama keluarga besar karena miskin. Enggak punya apa-apa. Sekarang bisa begini, akhirnya bisa ngangkat derajat keluarga.”
Kini, Ruben kembali dijauhi keluarga, termasuk anak-anak yang sangat ia perjuangkan. Keputusan Ruben untuk menjadi mualaf disebut menjadi pemicu konflik keluarga. Meski demikian, Ruben tetap berusaha memastikan keluarganya hidup mapan, bahkan setelah berpisah dengan istrinya, Sarwendah.
Psikolog menilai perilaku Ruben yang selalu berusaha membahagiakan orang lain bisa jadi merupakan respons atas trauma masa kecilnya. “Dia mungkin mengalami luka batin karena perlakuan keluarga di masa lalu. Hal itu mendorongnya untuk berusaha keras agar tidak ada orang yang merasakan hal yang sama,” ujar seorang psikolog yang enggan disebut namanya.
Di tengah hujatan yang ia terima, Ruben dinilai hanya memperjuangkan haknya untuk bertemu anak-anaknya. “Dia sudah semengalah itu selama ini, tapi yang dilihat orang cuma saat dia egois,” tulis seorang warganet di media sosial.
Kisah Ruben Onsu menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki luka masa kecil yang membentuk cara mereka bersikap. Bagi Ruben, trauma masa lalu justru menjadi pendorong untuk terus berbuat baik, meski tak jarang berujung pada kekecewaan.
Artikel Terkait
Ruben Onsu Pilih Berdoa Minta Kekuatan, Bukan Kesabaran
Ruben Onsu Meradang, Foto Anaknya Dipakai Konten Fitnah: Saya Akan Kejar Terus
Nanda Persada Tak Percaya Ruben Onsu Terlilit Pinjol, Sebut Bisa Pinjam ke Teman
Ruben Onsu Bongkar Kebaikan Lesti Kejora di Tengah Kesedihannya