Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa persoalan mafia beras bukan sekadar soal keuntungan pelaku usaha, melainkan praktik penipuan yang merugikan masyarakat dalam skala besar. Pernyataan ini disampaikan di hadapan 5.155 mahasiswa baru Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang dalam kuliah umum, Kamis (6/8/2029).
Menurutnya, berbagai modus pengoplosan hingga penyalahgunaan beras fortifikasi telah merampas hak rakyat dan menimbulkan kerugian ekonomi yang nilainya bisa mencapai sekitar Rp100 triliun. "Beras yang seharusnya harganya sekitar Rp8.000 per kilogram dijual Rp17.000 dengan label premium. Itu benar atau salah? Jelas salah. Jangan dialihkan isunya. Yang dirampas adalah hak rakyat," tegasnya.
Mentan menyoroti dugaan penyimpangan dalam distribusi beras fortifikasi. Ia mengungkapkan, beras fortifikasi yang semestinya dijual sekitar Rp12.000–Rp13.000 per kilogram justru dipasarkan hingga Rp42.000 per kilogram. "Itu sama saja menjual kuningan tetapi mengaku emas 24 karat. Selisihnya bisa Rp30.000 per kilogram. Ini jelas penipuan terhadap masyarakat," katanya.
Rata-rata selisih harga akibat praktik tersebut mencapai sekitar Rp22.600 per kilogram. Jika terjadi pada volume hingga satu juta ton, potensi kerugian masyarakat dapat mencapai sekitar Rp22 triliun hanya dari satu skema penyimpangan. "Jadi jangan dialihkan isunya. Yang kita lawan adalah praktik penipuan yang merugikan rakyat," tegasnya.
Terkait penegakan hukum, Mentan Amran menegaskan pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Ia menyebut saat ini telah terdapat puluhan tersangka yang diproses dalam kasus mafia beras. "Proses hukum sedang berjalan dan kita hormati. Yang terpenting, negara hadir melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang merugikan seperti ini," ujarnya.
Di samping pemberantasan mafia beras, Mentan Amran memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meskipun sejumlah wilayah mulai mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Kementan telah mengantisipasi melalui program pompanisasi, perbaikan irigasi, optimalisasi lahan (Oplah), serta penggunaan varietas tahan kekeringan.
"Kami sudah menyiapkan langkah antisipasi jauh sebelumnya. Tim sudah turun ke lapangan melakukan pompanisasi, memperbaiki irigasi, dan berbagai upaya lainnya. Luas kekeringan secara nasional sekitar 30 ribu hektare dan dampaknya terhadap produksi sangat kecil," jelasnya.
Mentan memastikan stok pangan nasional, terutama beras dan jagung, berada dalam kondisi aman. "Stok beras kita aman, bahkan cukup hingga musim panen Maret tahun depan. Jagung juga insya Allah aman," tandasnya.
Artikel Terkait
Bantuan Traktor Langsung Tiba di Hari yang Sama, Petani Semarang Terkejut
Mentan Amran Ajak 5.155 Mahasiswa Baru Undip Jadi Garda Terdepan Regenerasi Petani
Mentan Amran Hadiri Akad Nikah Putri Sahabat di Makassar di Tengah Agenda Padat
Pemerintah Tarik Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar dari Peredaran