Mantan Tentara Israel Sesali Penangkapan Warga Palestina yang Kehilangan Enam Anaknya di Gaza

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Mantan Tentara Israel Sesali Penangkapan Warga Palestina yang Kehilangan Enam Anaknya di Gaza

Seorang mantan perwira militer Israel kini mengkritik negaranya setelah seorang warga Palestina yang ditahan tanpa dakwaan selama dua setengah tahun harus pulang ke Gaza dan mendapati enam anaknya tewas dalam serangan udara. Shaiel Ben-Ephraim, yang pernah bertugas di Pasukan Pertahanan Israel (IDF), menyebut penahanan itu sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan.

Dalam unggahan di media sosial, Ben-Ephraim menulis, “Israel menangkap seorang pria tak bersalah, menahannya di kamp kematian penyiksaan selama dua setengah tahun sebagai sandera, dan membunuh enam anaknya. Lalu mereka bertanya-tanya mengapa warga Palestina membenci mereka.” Ia kini dikenal sebagai akademisi yang kerap mengkritik kebijakan Israel dan mengaku menyesali keterlibatannya di masa lalu.

Pria yang dimaksud adalah Ahmed Abd al-Karim al-Siqili, seorang pekerja asal Palestina yang ditangkap di Qalqilya, Tepi Barat, pada 7 Oktober 2023, tidak lama setelah serangan Hamas ke Israel. Ia kemudian dipindahkan ke Penjara Ofer. Al-Siqili dibebaskan pada Rabu, 5 Agustus 2026, dan kembali ke Gaza bersama 23 warga Palestina lainnya.

Begitu tiba di Gaza, ia menghadapi kenyataan yang menghancurkan: enam anaknya tewas dalam serangan Israel terhadap gedung tempat tinggal keluarga mereka pada Desember 2023. Anak tertua berusia 17 tahun, sedangkan yang termasih adalah bayi berusia dua bulan yang baru ia lihat sekali. Dua anak lainnya adalah kembar berusia delapan tahun. Istri dan seorang anak perempuannya selamat, meski terluka akibat serpihan ledakan.

Al-Siqili menuturkan, saat serangan terjadi, sekitar 120 orang berada di dalam gedung itu, namun hanya lima yang selamat. Ia mengaku pingsan ketika mendapat kabar kematian anak-anaknya saat masih dalam tahanan, dan harus dirawat di rumah sakit. “Apa yang kami alami tidak dapat digambarkan dengan kata-kata,” ujarnya kepada Palestine Online, seraya menceritakan penyiksaan, pemukulan berulang, dan penghinaan yang dialaminya selama penahanan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags