Dua warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Sabtu (1/8). Pada hari yang sama, serangan lain menghancurkan dua gudang penyimpanan obat milik Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah.
Otoritas kesehatan Palestina menyebutkan, kedua korban tewas berada di kawasan Sheikh Radwan, Kota Gaza. Militer Israel mengeklaim serangan tersebut menyasar anggota Hamas, namun tidak memberikan rincian atau bukti pendukung atas klaim itu.
Beberapa jam kemudian, serangan udara kembali terjadi di Deir al-Balah, Gaza bagian tengah. Dua gudang penyimpanan obat milik Rumah Sakit Martir Al-Aqsa hancur akibat ledakan. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan, gudang tersebut menyimpan berbagai perlengkapan medis penting, termasuk obat-obatan bagi pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah, kain kasa, serta peralatan medis untuk perawatan rutin.
Selain menghancurkan dua gudang utama, serangan juga merusak gudang penyimpanan lain dan klinik rawat jalan rumah sakit. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.
Militer Israel menyatakan, serangan diarahkan ke lokasi yang disebut sebagai tempat persembunyian Hamas di dekat rumah sakit. Menurut Israel, lokasi itu digunakan untuk menyimpan senjata dan menjadi bagian dari operasi yang didasarkan pada informasi intelijen Shin Bet. Namun, militer Israel tidak menyertakan bukti yang mendukung tuduhan bahwa Hamas menyimpan persenjataan di area rumah sakit tersebut.
Rekaman Reuters dari lokasi menunjukkan kawah besar bekas ledakan di sekitar kompleks rumah sakit. Puing-puing bangunan dan perlengkapan medis tampak berserakan di area yang berdekatan dengan permukiman tenda pengungsi.
Dokter Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, Khalil al-Daqran, mengecam serangan tersebut. Ia menyebut fasilitas yang dihancurkan berisi stok medis yang sangat dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan.
"Pendudukan Israel telah melakukan kejahatan keji. Di tengah malam mereka menargetkan gudang yang berisi persediaan medis untuk rumah sakit dan menghancurkannya sepenuhnya," kata Khalil kepada Reuters.
Sejumlah saksi mata mengatakan, militer Israel telah mengeluarkan peringatan evakuasi sebelum melancarkan serangan di kawasan tersebut. Salah seorang pengungsi, Fatima Sharab (34), mengatakan ledakan juga menghancurkan tenda-tenda yang menjadi tempat berlindung sekitar 60 hingga 70 orang. Menurut Fatima, banyak keluarga memilih tinggal di sekitar rumah sakit agar lebih mudah mengakses layanan kesehatan.
Rumah sakit dan fasilitas sipil pada prinsipnya mendapat perlindungan berdasarkan hukum humaniter internasional. Namun Israel berulang kali menyatakan Hamas menggunakan rumah sakit dan fasilitas sipil sebagai lokasi operasi militer maupun penyimpanan senjata, tuduhan yang berkali-kali dibantah Hamas.
Serangan Berlanjut di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata
Serangan terbaru terjadi ketika masa depan kesepakatan gencatan senjata di Gaza masih belum jelas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengeklaim telah terjadi terobosan dalam upaya mengakhiri perang dan menyebut, Hamas bersedia meletakkan senjata sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun hingga kini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim tersebut.
Sebaliknya, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menolak rencana itu. Ia menilai Israel seharusnya tetap melanjutkan operasi militer terhadap Hamas.
Artikel Terkait
Serangan Israel Hancurkan Gudang Medis di Deir al-Balah, Warga Kehilangan Tempat Berlindung
Serangan Israel di Gaza Tewaskan Empat Orang, Termasuk Dua Anak
AS dan Israel Dikabarkan Siap Bombardir Infrastruktur Energi Iran
Israel Tegaskan Tak Akan Tarik Pasukan dari Gaza Sebelum Hamas Perlucutan Senjata