Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menyatakan bahwa presiden berhak membalas kritik atau hinaan dari rakyat dengan respons yang setara. Pernyataan itu ia sampaikan untuk membela Presiden yang sebelumnya menyebut jurnalis dan aktivis sebagai "londo ireng" karena mengkritik kebijakan pemerintah.
Ucapan Hasan langsung menuai reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai pernyataan itu menunjukkan pemahaman yang keliru tentang peran pemerintah sebagai pelayan publik. Seorang pengguna media sosial menulis, "Berpuluh-puluh tahun hidup, sumpah baru denger konsep pemerintah mengkritik balik rakyat yang ngasih kritik. Ada juga kritik didengarkan dan dipilah. Tugas pemerintah ngasih kerja nyata. Kritik balik ga ada di job desc-nya."
Kritik serupa datang dari akun lain yang menekankan bahwa pemerintah seharusnya merespons kritik dengan data dan kebijakan, bukan dengan sindiran. "Rakyat mengkritik secara lisan maupun tulisan, pemerintah merespon dalam bentuk penyampaian data dan eksekusi kebijakan serta program yang menjadi solusi atas kritik tersebut. Sesederhana itu saja kok enggak paham. Kalau kritik dibalas nyolot itu levelnya ibu-ibu kompleks," tulisnya.
Sejumlah warganet bahkan mempertanyakan logika di balik pernyataan tersebut. "Berarti boleh dong kita nggak bayar pajak kalo gini caranya?" tulis salah satu pengguna. Yang lain menambahkan, "Orang-orang pemakan pajak ini ga ngerti apa ya konsep pemerintah sebagai pelayan publik? Atau pada dasarnya mereka ini emang jiwanya preman aja gitu, yang ngerasa memalak rakyat buat biaya kehidupan mereka itu sudah kayak kewajiban aja, ga ada yang namanya konsekuensi dan pertanggungjawaban."
Seorang warganet lainnya menyindir, "Pejabat-pejabat tinggi negara pilihan wowo kok ga ada yang kompeten sedikitpun bahkan untuk soal bacot di media?" Sementara itu, ada pula yang memberikan saran sederhana: "Tinggal bilang, 'Terima kasih kritiknya, presiden mendengar suara di masyarakat dan akan dijawab melalui bukti nyata.' Jawab aja gitu."
Perbandingan dengan situasi rumah tangga pun muncul. "Presiden dipilih rakyat, digaji rakyat, giliran kerjanya dikritik marah, malah balik mengata-ngatai. Ibarat pembantu mengata-ngatai balik majikannya yang menggajinya," tulis seorang pengguna.
Artikel Terkait
Kritik Anak Muda ke Prabowo: Niat Baik Tak Cukup, Tata Kelola Makan Bergizi Dipertanyakan
Kritik Tajam untuk Program MBG: Penggunaan Uang Rakyat Dipertanyakan
Kritik Pedas untuk Kepala Perpustakaan Nasional: Kelaparan Lebih Urgen dari Buku
Korupsi Proyek MBG dan KDMP: Presiden Dinilai Mabuk Pujian, Pengawasan Lemah