Rasio uang beredar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih berkisar 42%, jauh lebih rendah dibandingkan beberapa negara ASEAN. Kondisi ini membuat sistem keuangan domestik relatif dangkal, sehingga pasar valas tidak memiliki bantalan likuiditas yang cukup dalam. Akibatnya, ketika permintaan dolar meningkat atau investor asing keluar, pergerakan kurs menjadi lebih tajam seperti kolam dangkal yang mudah bergelombang meski hanya dilempari batu kecil.
Akar masalahnya terletak pada kebiasaan korporasi yang lebih banyak melakukan leverage di luar negeri ketimbang di dalam negeri. Ketika perusahaan Indonesia meminjam dolar dari bank atau investor asing, pembiayaan ekonomi bertambah, namun kredit tersebut belum tentu tercatat sebagai penciptaan uang dalam sistem perbankan domestik. Dengan kata lain, aktivitas ekonomi dan aset perusahaan dapat membesar tanpa meningkatkan uang beredar dalam arti luas (M2) secara proporsional.
Fenomena lain yang mengemuka adalah inflasi yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan M2. Artinya, uang lebih banyak disimpan di bank, saham, dan obligasi, bukan mengalir ke sektor produksi barang dan jasa. Data terkini menunjukkan bahwa orang kaya semakin kaya, tetapi kekayaan itu tidak berasal dari sektor produksi bisa jadi karena rente atau korupsi dari ekonomi bayangan.
Dengan kondisi tersebut, bauran kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi tidak efektif. Sumber masalah sebenarnya bukan pada BI, melainkan pada sektor riil yang merupakan ranah pemerintah. Siapa pun yang menjadi gubernur BI akan tetap kesulitan menghadapi para trader, karena ini murni soal bisnis: yang lemah akan kalah.
Karena itu, terlalu sering menyalahkan pihak asing tidaklah bijak. Orang cerdas tidak mencari-cari kesalahan, melainkan fokus pada perbaikan diri.
Artikel Terkait
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Tertekan di Dekat Rp 18 Ribu per Dolar AS
Perbanas Hormati Pengunduran Diri Perry Warjiyo, Yakin Stabilitas Perbankan Terjaga
Destry Damayanti Buka Suara soal Kans Jadi Gubernur BI Definitif
Destry Damayanti Buka Suara soal Peluang Jadi Gubernur BI Definitif