Perayaan pecah di Delhi setelah Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri di tengah gelombang protes mahasiswa yang berlangsung berhari-hari. Unjuk rasa tersebut menuntut pertanggungjawaban atas kebocoran soal ujian nasional pada Mei lalu yang berdampak pada sekitar dua juta siswa.
Pengunduran diri ini menjadi pukulan langka namun signifikan terhadap citra Perdana Menteri Narendra Modi yang selama ini dianggap tak terkalahkan. Bagi seorang pemimpin yang membangun otoritas di atas kendali tak tergoyahkan dan merek politik nasionalisme Hindu, langkah ini dinilai analis sebagai kekalahan yang menyakitkan.
Pendiri Cockroach Janta Party (CJP), Abhijeet Dipke, menyindir partai BJP milik Modi pada Sabtu (25/7/2026). "Kita semua mewujudkan hal ini bersama-sama. Apa yang biasa orang-orang ini katakan? Bahwa pengunduran diri tidak akan pernah terjadi di bawah pemerintahan ini. Apa yang mereka katakan? Pengunduran diri tidak terjadi di bawah pemerintahan ini," tegasnya.
Ketika puluhan ribu mahasiswa berkemah di Jantar Mantar, polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran yang berbaris menuju Parlemen pekan lalu, dan seruan "Down with Modi" bergema, perdana menteri yang disebut paling berkuasa dalam beberapa dekade itu tetap bungkam. Modi akhirnya memecah kebisuannya pada 23 Juli 2026 malam melalui pesan video. Sekretaris Jenderal partai oposisi utama, Kongres, Jairam Ramesh, menyoroti bahwa Modi bahkan gagal menyebutkan aksi protes mahasiswa maupun kebrutalan polisi.
Analis politik dari The Quint, Aditya Menon, mencatat fokus protes telah bergeser dari Dharmendra Pradhan ke Modi sendiri. Dari sudut pandang pemerintah, memecat Pradhan merupakan penyimpangan besar dari kebijakan yang tidak pernah mau menerima kesalahan. Pemerintah sebelumnya pernah balik arah atas undang-undang pertanian pada 2020 setelah protes hampir 18 bulan, namun kali ini mereka bergerak lebih cepat.
Kebisuan Sang Perdana Menteri
Kebisuan Modi sendiri merupakan strategi yang gagal. Pemerintah sebelumnya menolak mengakui keberadaan protes, dengan kalkulasi bahwa gerakan jalanan tidak boleh mendikte pemerintahan. Namun hal itu justru menciptakan keretakan pada citra PM Modi. Bahkan Ratan Sharda dari Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) organisasi induk BJP secara terbuka mengkritik tim media partainya di platform X, menuduh mereka melakukan "kegagalan spektakuler" dalam membalas narasi protes.
Tanda paling jelas dari perubahan mungkin bukan pengunduran diri itu sendiri, melainkan kata-kata yang diucapkan di jalanan. Setelah 12 tahun, satu bulan, dan 24 hari sejak Modi dilantik, kata-kata "Modi must resign" diucapkan lantang tanpa rasa takut untuk pertama kalinya di hadapan saksi dan kamera di ibu kota. Rasa takut telah berganti posisi: bukan lagi demonstran yang takut kepada pemerintah, melainkan pemerintah yang mulai takut kepada demonstran.
Rahul Gandhi, pemimpin oposisi dari Partai Kongres yang sempat ditahan saat memimpin pawai menuju kediaman Modi pekan lalu, menantang langsung setelah pengunduran diri Pradhan. Ia menegaskan bahwa pihak yang memerintahkan polisi memukuli mahasiswa "harus bertanggung jawab", dan Modi harus meminta maaf secara pribadi. Belum ada permintaan maaf hingga kini. Menteri pendidikan tersebut telah mundur, namun sesuatu telah bergeser dalam atmosfer politik India yang tidak dapat dipulihkan dengan mudah.
Artikel Terkait
Prabowo Anugerahkan Bintang Adipurna kepada Modi, 16 Kerja Sama Diteken
Prabowo dan Modi Resmikan Kerja Sama Restorasi Candi Prambanan
Prabowo Minta Modi Kembali ke Indonesia Usai Restorasi Candi Prambanan Rampung
Prabowo dan PM Modi Resmikan Kerja Sama Konservasi Candi Prambanan