Di Gaza, Sebatang Korek Api Jadi Barang Paling Berharga

- Minggu, 26 Juli 2026 | 20:00 WIB
Di Gaza, Sebatang Korek Api Jadi Barang Paling Berharga

Di tengah blokade berkepanjangan dan lumpuhnya pasokan listrik, sebatang korek api di Jalur Gaza berubah menjadi barang yang sangat berharga. Benda sederhana yang di tempat lain dijual murah di warung kini menentukan apakah sebuah keluarga bisa memasak, merebus air, atau sekadar menghangatkan diri di malam hari.

Perubahan nilai ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan cermin bagaimana perang mengubah kebutuhan paling mendasar. Benda yang selama ini dianggap remeh mendadak memiliki arti jauh lebih besar dari harga pasarnya. Dari nyala api kecil itulah kehidupan sehari-hari bergantung.

Krisis energi di Gaza telah mencapai tahap mengkhawatirkan. Listrik hanya tersedia dalam waktu sangat terbatas, sementara bahan bakar untuk rumah sakit, instalasi air, dapur umum, dan kendaraan darurat terus menipis. Lembaga kemanusiaan PBB berulang kali memperingatkan bahwa pembatasan distribusi bantuan memperburuk kondisi jutaan warga di kamp pengungsian.

Masyarakat terpaksa kembali ke cara paling sederhana untuk bertahan. Kayu bakar, potongan kardus, kain bekas, dan sisa material mudah terbakar dikumpulkan untuk menyalakan tungku darurat. Tanpa api, makanan tak bisa diolah, air yang kualitasnya diragukan tak bisa direbus, dan anak-anak kehilangan kesempatan mendapat makanan hangat.

Di tengah keterbatasan itu, korek api memperoleh makna baru. Banyak keluarga menyimpannya dengan hati-hati karena sulit digantikan. Korek yang rusak diperbaiki, yang masih berfungsi dipakai sehemat mungkin agar tahan lama. Barang yang di tempat lain murah meriah berubah menjadi penentu keberlangsungan hidup.

Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai suatu barang tidak selalu ditentukan harga, melainkan situasi yang melingkupinya. Di wilayah damai, orang mungkin lebih mengutamakan telepon pintar atau kendaraan. Di kawasan konflik, sebatang korek api justru lebih berharga karena menjadi pintu masuk kebutuhan dasar manusia.

Kelangkaan energi juga memperlihatkan bahwa bantuan pangan saja belum cukup. Beras dan tepung tak banyak berarti tanpa api untuk mengolahnya. Air bersih pun tak selalu aman tanpa proses perebusan. Artinya, energi adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menyelamatkan warga sipil.

Tragedi Gaza menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tak otomatis menjamin ketahanan hidup. Dunia berlomba mengembangkan kecerdasan buatan dan kendaraan listrik, sementara jutaan orang masih bergantung pada nyala api kecil untuk kebutuhan paling mendasar. Kontras ini menunjukkan bahwa ukuran kemajuan peradaban bukan hanya dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan menjaga hak setiap manusia atas pangan, air bersih, dan rasa aman.

Krisis ini juga memperlihatkan rapuhnya rantai kehidupan. Begitu akses energi terputus, dampaknya merambat ke mana-mana: layanan kesehatan terganggu, sanitasi memburuk, distribusi air tersendat, hingga memasak jadi perjuangan harian. Dari sini tampak bahwa energi adalah fondasi kehidupan.

Tragedi kemanusiaan sering digambarkan melalui angka korban jiwa atau kerugian ekonomi. Padahal, ada ukuran lain yang lebih menyentuh: ketika masyarakat mulai menganggap sebatang korek api lebih berharga daripada banyak benda lain. Selama jutaan warga masih menggantungkan harapan pada nyala api kecil untuk memasak, merebus air, dan menghangatkan tubuh, persoalan Gaza tak bisa dipandang semata sebagai konflik politik. Tragedi itu telah menjadi cermin yang menguji kepedulian dunia terhadap martabat manusia, mengingatkan bahwa hak untuk hidup layak sering dimulai dari hal yang tampak sederhana.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags