Menteri Pertahanan Inggris yang baru, Wes Streeting, menegaskan kembali pernyataannya yang menuduh Israel melakukan kejahatan perang, meskipun kini ia menjabat sebagai pejabat tinggi keamanan negara. Dalam pernyataan di Pameran Dirgantara Internasional Farnborough pada Rabu (22/7/2026), Streeting mengatakan tidak akan menarik komentar yang pernah ia sampaikan sebelumnya.
"Saya telah menyatakan dengan sangat jelas kekhawatiran saya tentang tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat. Komentar saya ada di sana. Komentar tersebut telah dipublikasikan. Komentar tersebut tercatat. Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya tidak membuat komentar tersebut," ujarnya kepada wartawan.
Streeting sebelumnya menuduh pemerintah Israel menggunakan bahasa pembersihan etnis dan berperilaku seperti "negara nakal." Ia menekankan bahwa menjadi teman Israel bukan berarti menghindari kritik. "Tetapi saya juga menuntut Israel, sebagai teman dan sekutu, untuk memenuhi standar yang sama seperti yang kita terapkan pada diri kita sendiri. Itulah standar yang seharusnya diterapkan pada Israel. Itulah standar yang menurut saya, dan saya khawatir, telah mereka gagal penuhi," katanya.
Ditanya apakah Inggris harus terus membeli senjata Israel, Streeting menjawab bahwa keputusan tentang pengadaan, perjanjian perdagangan, dan hubungan diplomatik dibuat melalui kerangka kerja pemerintah yang telah ditetapkan, bukan oleh dirinya sendiri.
Pengumuman kabinet baru Inggris di bawah Perdana Menteri Andy Burnham dilakukan pada Senin (20/7/2026), setelah Burnham dilantik di Istana Buckingham menggantikan Keir Starmer. Streeting ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet tersebut.
Sementara itu, gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 terus terganggu oleh serangan udara Israel, serangan darat, dan pembatasan di perbatasan. Bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza masih sangat terbatas. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel telah menewaskan 1.158 warga Palestina dan melukai 3.756 lainnya sejak gencatan senjata diberlakukan.
Gencatan senjata tersebut terjadi setelah dua tahun perang genosida Israel di Gaza, yang dimulai pada 8 Oktober 2023. Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, melukai lebih dari 173.000 lainnya, serta merusak atau menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil di wilayah tersebut.
Artikel Terkait
Pemimpin Baru Hamas Janjikan Rekonstruksi Gaza dan Negara Palestina Bersatu
Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Warga Gaza Rayakan sebagai Kemenangan Palestina
Pemimpin Baru Hamas Janjikan Rekonstruksi Gaza dan Pembebasan Tahanan
Aktivis Korea Selatan Ceritakan Kekerasan Israel saat Ditahan, Presiden Lee Jae Myung Kecam Keras