Mensos Gus Ipul Instruksikan Program Terintegrasi Berbasis Data untuk Atasi Ketimpangan Sosial

- Selasa, 21 Juli 2026 | 09:12 WIB
Mensos Gus Ipul Instruksikan Program Terintegrasi Berbasis Data untuk Atasi Ketimpangan Sosial

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, meminta seluruh jajarannya di Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat penyusunan program dengan pendekatan lebih terintegrasi, berbasis data terverifikasi, dan berorientasi pada penyelesaian ketimpangan sosial. Arahan ini sesuai dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Pesan itu disampaikan Gus Ipul saat memimpin Rapat Dinas di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026). Rapat dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Robben Rico, jajaran eselon I dan II, kepala biro, staf khusus menteri, serta tenaga ahli. Sementara itu, kepala sentra dan balai Kemensos di seluruh Indonesia mengikuti secara daring.

Mengawali arahannya, Gus Ipul menyampaikan hasil Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo pada hari yang sama. Menurutnya, seluruh arahan presiden harus diterjemahkan menjadi langkah nyata di lingkungan Kemensos. Ia menekankan bahwa pembangunan nasional merupakan proses berkelanjutan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Namun, masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan, terutama ketimpangan sosial yang berdampak pada kemiskinan dan belum meratanya akses masyarakat terhadap layanan.

"Presiden mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus kita selesaikan, yaitu ketimpangan. Karena itu, seluruh program kita harus benar-benar diarahkan untuk menjawab persoalan tersebut," kata Gus Ipul.

Ia menegaskan, amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 dan 34 Undang-Undang Dasar 1945, menjadi pijakan dalam menjalankan tugas Kemensos. Pengelolaan sumber daya negara harus bermuara pada perlindungan dan peningkatan kesejahteraan fakir miskin serta anak telantar. Dalam konteks itu, Sekolah Rakyat menjadi salah satu instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.

"Datanya harus benar, bantuan sosialnya tepat sasaran, dan Sekolah Rakyat menjadi bagian dari upaya pemberdayaan keluarga-keluarga yang tidak mampu," ujarnya.

Gus Ipul menjelaskan, pelayanan Kemensos tidak boleh berhenti pada satu jenis intervensi. Setiap penerima manfaat harus memperoleh layanan yang saling terhubung, mulai dari pendataan, perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, hingga pemberdayaan sosial sesuai kebutuhan masing-masing.

"Bila setelah mendapat perlindungan sosial masih membutuhkan rehabilitasi, maka harus ditindaklanjuti dengan rehabilitasi sosial. Setelah itu harus dipikirkan pemberdayaannya. Kalau memang membutuhkan layanan residensial, kita siapkan. Kalau tidak, bisa melalui home care, home visit, atau bentuk layanan lain yang sesuai," katanya.

Karena itu, Gus Ipul meminta seluruh unit kerja tidak lagi bekerja secara terpisah, melainkan menyusun program bersama agar setiap layanan saling melengkapi. "Kemensos ini ibarat satu mesin. Jangan ada yang berjalan sendiri-sendiri. Antar-direktur, antar-unit kerja, harus saling berkomunikasi dan menyusun program bersama supaya layanan kepada masyarakat semakin tajam," ujarnya.

Gus Ipul juga menekankan pentingnya peran Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Pusdatin) sebagai pengampu data bagi seluruh program Kemensos. Menurutnya, seluruh intervensi harus menggunakan data yang telah terverifikasi dan dimutakhirkan sehingga pelaksanaan program lebih tepat sasaran. "Penjurunya adalah Pusdatin. Semua program harus berbasis pada data yang sudah terverifikasi. Setelah itu baru dioperasionalkan dalam program-program strategis, baik rehabilitasi sosial maupun pemberdayaan sosial," katanya.

Ia juga meminta seluruh sentra, balai, dan pusat layanan milik Kemensos terus diperkuat agar mampu menjadi simpul pelayanan kesejahteraan sosial yang bekerja secara terukur, didukung perencanaan matang, pelaksanaan konsisten, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

Menutup arahannya, Gus Ipul mengingatkan seluruh jajaran untuk mengawal penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang saat ini memasuki tahap pembangunan di berbagai daerah. Ia menegaskan seluruh proses harus dilaksanakan secara akuntabel dan bebas dari praktik korupsi. "Ini masa yang sangat menentukan karena kita sedang membangun fondasi Sekolah Rakyat. Semua prosesnya harus bersih, transparan, dan tidak boleh dikotori oleh praktik korupsi. Itu yang harus kita pegang bersama," tegasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags