Asap masih mengepul, sementara suara sirene dan teriakan memenuhi udara. Sabtu (31/1) lalu, serangkaian serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza. Menurut laporan Badan Pertahanan Sipil setempat, sedikitnya 32 warga Palestina kehilangan nyawa. Yang menyayat hati, mayoritas dari mereka adalah anak-anak dan perempuan.
“Jumlah korban tewas sejak fajar hari ini meningkat menjadi 32 orang, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan,” ungkap pernyataan resmi badan tersebut, seperti dikutip AFP pada Minggu (1/2).
Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, dengan suara berat menjelaskan bahwa serangan kali ini menyasar sejumlah lokasi sipil. Bukan target militer.
“Apartemen tempat tinggal, tenda-tenda, tempat penampungan, dan sebuah kantor polisi menjadi target serangan,” tegasnya.
Di kawasan Rimal, sebuah unit apartemen rata dengan tanah akibat hantaman langsung. Keadaan di lokasi sungguh memilukan; puing-puing berserakan dan bercak darah terlihat jelas di jalanan sekitar.
Salah seorang kerabat korban, Samer al-Atbash, tak kuasa menahan duka.
“Tiga anak perempuan meninggal saat mereka sedang tidur. Kami menemukan jasad mereka di jalan,” katanya, menggambarkan betapa tragisnya kejadian itu.
Sementara itu, kerabat lainnya, Nael al-Atbash, mempertanyakan dengan nada getir tentang gencatan senjata yang dikabarkan masih berlaku.
“Gencatan senjata apa yang kalian maksud? Semua orang saling menipu satu sama lain,” ujarnya penuh kekecewaan.
Artikel Terkait
Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu
Seratus Tahun NU: Seruan Kembali ke Khittah di Tengah Keresahan
Sorot Mata yang Pudar: Trauma Bocah Cianjur Usai Diterjang Delapan Anjing Liar
Bambu dan Petasan Warnai Kericuhan di Musda Golkar Sumut