Operasi SAR 13 Hari di Gunung Lawu Ditutup, Yasid Ahmad Firdaus Belum Ditemukan

- Minggu, 01 Februari 2026 | 12:18 WIB
Operasi SAR 13 Hari di Gunung Lawu Ditutup, Yasid Ahmad Firdaus Belum Ditemukan

Setelah tiga belas hari penuh, upaya pencarian untuk menemukan Yasid Ahmad Firdaus akhirnya dihentikan. Operasi gabungan di Bukit Mongkrang, lereng Gunung Lawu, Karanganyar, itu resmi ditutup Sabtu lalu, 31 Januari 2026.

Keputusan ini, tentu saja, bukan perkara mudah. Tim SAR telah mengerahkan segala upaya, namun tak satu pun petunjuk baru ditemukan sejak hari pertama. Medan yang sulit dan cuaca yang tak menentu membuat situasi semakin rumit.

Basuki, Kepala Sub Seksi Operasi Basarnas Surakarta, menjelaskan alasan di balik keputusan sulit tersebut.

“Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan saudara kita, Yasid Ahmad Firdaus, maka operasi SAR kami nyatakan ditutup,”

Ucapnya dengan nada berat. Menurutnya, semua opsi sudah dipertimbangkan matang-matang.

Sebelum mengumumkan penutupan, serangkaian koordinasi intensif dilakukan. Basarnas duduk bersama BPBD Karanganyar, Kodim setempat, Polres, hingga pengelola basecamp pendakian. Tak ketinggalan, keluarga korban dan para relawan yang sudah kelelahan juga dilibatkan dalam pembahasan akhir.

“Penutupan ini dilakukan setelah kami berembuk bersama Dandim, Kapolres, pengelola basecamp, relawan, dan keluarga korban. Selama 13 hari pencarian, upaya yang dilakukan sudah maksimal,”

Basuki menambahkan.

Kisahnya bermula pada Minggu, 18 Januari lalu. Yasid, pendaki asal Desa Gawanan, Colomadu, itu dilaporkan terpisah dari rombongannya saat turun gunung. Pencarian langsung digelar esok harinya, dimulai tanggal 19 Januari.

Operasi awal berlangsung tujuh hari, hingga 25 Januari. Karena belum membuahkan hasil, masa pencarian kemudian diperpanjang dua kali: pertama pada 26-28 Januari, dan terakhir pada 29-30 Januari. Sayangnya, semua itu tetap tak membawa kabar baik. Akhirnya, dengan hati yang berat, operasi dinyatakan selesai.

Kini, bagi keluarga dan rekan-rekannya, yang tersisa adalah harapan dan doa. Sementara bagi kita semua, ini menjadi pengingat betapa alam bisa tak terduga, dan setiap langkah di gunung harus selalu dihitung dengan saksama.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler