Mengapa dalam keadaan sakit, wajah ancur, body ringkih, gesture tertatih, dia masih hobby tampil?
Pertanyaan itu terus bergema. Dia muncul di panggung, berfoto dengan para tokoh, menerima tamu, dan berkeliling ke sana-sini. Tapi ada satu tempat yang sepertinya tak pernah dia datangi: pengadilan.
Nah, menurut saya, jawabannya sederhana. Ini soal strategi. Dia sedang memainkan peran sebagai korban.
Dia merasa terus-menerus "dianiaya" oleh RRT. Dipermalukan dan direndahkan, apalagi di saat kondisi fisiknya sedang tak prima. Itulah narasi yang coba dibangun.
Jadi, sebenarnya, paksaan diri untuk tampil di panggung PSI itu bukan semata dukungan untuk partai. Bukan. Panggung itu dia jadikan panggung sandiwara untuk menunjukkan dirinya sebagai "si sakit yang terus disakiti". Coba perhatikan baik-baik.
Ucapannya diulang-ulang dengan suara yang serak dan berat:
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral