Mengapa dalam keadaan sakit, wajah ancur, body ringkih, gesture tertatih, dia masih hobby tampil?
Pertanyaan itu terus bergema. Dia muncul di panggung, berfoto dengan para tokoh, menerima tamu, dan berkeliling ke sana-sini. Tapi ada satu tempat yang sepertinya tak pernah dia datangi: pengadilan.
Nah, menurut saya, jawabannya sederhana. Ini soal strategi. Dia sedang memainkan peran sebagai korban.
Dia merasa terus-menerus "dianiaya" oleh RRT. Dipermalukan dan direndahkan, apalagi di saat kondisi fisiknya sedang tak prima. Itulah narasi yang coba dibangun.
Jadi, sebenarnya, paksaan diri untuk tampil di panggung PSI itu bukan semata dukungan untuk partai. Bukan. Panggung itu dia jadikan panggung sandiwara untuk menunjukkan dirinya sebagai "si sakit yang terus disakiti". Coba perhatikan baik-baik.
Ucapannya diulang-ulang dengan suara yang serak dan berat:
"Saya masih sanggup"
"Saya masih sanggup"
"Saya masih sanggup"
Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang meledak dari alam bawah sadar. Sebuah luapan batin yang tak bisa dia kendalikan lagi. Dan publik merekam semua itu dengan jelas.
Alhasil, bukannya simpati yang datang. Malah, komentar-komentar sinis bertebaran. Banyak yang bergumam, dalam keadaan seperti itu pun ambisinya masih berkobar. Tak pernah puas. Sudah jadi pengusaha sukses, walikota, gubernur, bahkan presiden. Anaknya wakil presiden, mantunya gubernur, anak bungsunya ketua partai. Apa lagi yang kurang?
Ini yang bagi saya luar biasa. Demi ambisi yang tak kenal batas, bahkan penderitaan sakit pun dijadikan komoditas. Dieksploitasi.
Dunia seakan tak pernah cukup baginya. Satu-satunya batas yang mungkin bisa menghentikannya, tampaknya, hanyalah maut.
(@DokterTifa)
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu