Wamen Sosial Serukan Transformasi Sekolah Rakyat untuk Putus Rantai Kemiskinan

- Minggu, 01 Februari 2026 | 10:00 WIB
Wamen Sosial Serukan Transformasi Sekolah Rakyat untuk Putus Rantai Kemiskinan

Di Bekasi, Sabtu (31/1) lalu, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menutup sebuah koordinasi penting. Hadir di sana, 166 kepala Sekolah Rakyat. Pesannya jelas: persiapkan siswa sebaik mungkin. Zaman terus berubah, dan anak-anak kita harus siap.

“Kita harus mempersiapkan anak-anak kita bahwa zaman selalu berubah, selalu berkembang,” tegas Agus Jabo.

“Sekolah Rakyat harus bisa mengasesmen perkembangan zaman sehingga kita bisa mempersiapkan betul apa yang bisa kita ketahui untuk anak-anak.”

Menurutnya, adaptasi ini bukan sekadar teori. Ini soal bekal nyata. Saat lulus nanti, para siswa diharapkan bisa langsung menggerakkan roda pemutus kemiskinan entah dengan bekerja atau melanjutkan kuliah. Tugas para kepala sekolah dan guru pun jadi amat berat, apalagi dengan latar belakang siswa yang beragam. Makanya, diperlukan pendekatan berbeda.

“Harus ada bentuk baru, pola baru yang berkualitas, plus plus, yang berbeda dari sekolah reguler,” imbuhnya.

“Jadi siswa kita didik untuk betul-betul siap ketika mereka lulus dari Sekolah Menengah Atas.”

Di sisi lain, Agus Jabo punya keyakinan. Siswa yang unggul tak hanya tangguh secara pribadi. Mereka juga punya daya angkat. Bisa mengangkat derajat keluarga, memutus rantai kemiskinan yang mungkin sudah lama membelit.

Namun begitu, cita-cita besar butuh pengelolaan yang maksimal. Ia mengimbau agar setiap sekolah, bersama Kementerian Sosial, melakukan evaluasi mendalam untuk enam bulan ke depan. Tujuannya sederhana: mendeteksi hambatan sejak dini dan mencari solusi sebelum masalah membesar.

Tak lupa, apresiasi setinggi-tingginya ia sampaikan kepada semua pilar pendidikan di Sekolah Rakyat. Tapi, pesannya juga tegas. Jangan cepat puas.

“Penghormatan setinggi-tingginya dari saya kepada kepala sekolah, para tenaga pendidik, para guru,” ucap Agus Jabo.

“Tetapi kita tidak boleh puas diri, karena dunia makin lama makin berat.”

Itulah tantangannya. Menyiapkan generasi untuk masa depan yang tak pasti, dengan bekal yang harus tetap relevan. Semua dimulai dari ruang koordinasi di Bekasi itu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler