Pengacara Keluarga Penjambret Tewas Bawa-Bawa Nama Allah, Tere Liye Sindir: Gawe Buyan!

- Minggu, 01 Februari 2026 | 07:40 WIB
Pengacara Keluarga Penjambret Tewas Bawa-Bawa Nama Allah, Tere Liye Sindir: Gawe Buyan!

Perkataannya bikin geleng-geleng kepala. Pengacara itu ngomongin uang tali asih buat keluarganya, seolah-olah itu syarat biar kasusnya berhenti di situ. Gak tanggung-tanggung, dia bawa-bawa nama Tuhan.

"Berapa kita minta? Dalam kondisi kayak gini, kita gak jual nyawa, lho. Gak pernah," ujarnya, mengaku sudah bicara dengan Kajari.

"Kalau kamu mau kasih sesuatu, nanti saya sampaikan. Punya kami ini kan udah mati. Gak bakal hidup lagi."

Lalu nada bicaranya berubah. "Nah, si Hogi ini, dengan kekuatan yang luar biasa, dia ditahan aja enggak."

Dia melanjutkan dengan nada yakin, "Tapi Allah maha tahu. Nanti Allah yang menghukum. Saya yakin begitu. Dan kami gak akan pernah memaafkan, lahir dan batin. Orang tuanya udah bilang ke saya. Gak akan memaafkan pelaku pembunuhan."

"

Pernyataan sang pengacara itu pun memantik respons. Penulis ternama asal Sumatera Selatan, Tere Liye, angkat bicara. Dia merasa perlu klarifikasi.

"Saya mewakili penduduk Sumsel, benar-benar minta maaf atas kelakuan penjambret, pengacaranya, polisi, dll dsbgnya," tulis Tere Liye di Facebook.

Lanjut dia, "Percayalah, tidak semua orang Sumsel begini pola pikirnya. Sudahlah dia penjahatnya, dia yg memulai kejadian, eeh dia pula yang lebih galak. Gawe buyan."

Istilah "gawe buyan" yang dipakai Tere Liye itu menarik. Dalam percakapan sehari-hari di Sumatera, khususnya bahasa Ogan, frasa itu sering dipakai buat nunjukin tingkah laku yang benar-benar di luar nalar. Sederhananya, sinting. Gila. Atau tindakan konyol yang bikin orang sebel.

Gawe artinya membuat atau perbuatan. Sementara buyan ya sinting atau gila. Jadi, kalau digabung, gambaran utuhnya ya perbuatan bodoh yang gak masuk akal. Kira-kira begitu.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler