Sejak fajar menyingsing, suara ledakan kembali mengguncang Gaza. Serangan udara dan darat Israel, yang berfokus di Kota Gaza dan Khan Younis, menorehkan korban jiwa yang pahit. Menurut keterangan sejumlah sumber medis yang dihubungi Al Jazeera, sedikitnya 31 warga Palestina meregang nyawa. Yang membuat pilu, enam dari mereka masih anak-anak.
Kekerasan ini datang di saat yang sangat sensitif. Cuma sehari lagi, tepatnya hari Minggu, Israel rencananya akan membuka kembali Penyeberangan Rafah. Titik penghubung antara Gaza dan Mesir itu terakhir kali beroperasi pada Mei 2024 lalu. Jadi, wacana pembukaan ini seharusnya jadi secercah harapan. Namun di lapangan, situasinya justru makin memanas.
Di sisi lain, angka korban sejak gencatan senjata berlaku terus merangkak naik. Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut, lebih dari 500 orang Palestina telah tewas oleh pasukan Israel. Padahal, gencatan yang dimediasi Amerika Serikat itu sudah berlaku sejak 10 Oktober. Sebuah fakta yang kontras dengan harapan akan perdamaian.
Perang panjang yang telah berlangsung sejak Oktober 2023 ini meninggalkan luka yang dalam. Catatan terbaru menunjukkan sedikitnya 71.769 jiwa melayang. Korban luka bahkan mencapai 171.483 orang. Konflik ini, bagi banyak pengamat, telah melampaui batas.
Sementara itu, di sisi seberang, serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu juga menelan korban. Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel saat itu, dengan sekitar 250 lainnya diambil sebagai tawanan.
Langit di atas Rafah masih kelam. Suara pesawat dan gema ledakan seakan menjadi pengingat bahwa jalan menuju gencatan yang sesungguhnya masih sangat panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu