Amien Rais Soroti Pudarnya Semangat Persatuan Umat Islam di Tengah Perdebatan Furuiyyah

- Rabu, 28 Januari 2026 | 06:00 WIB
Amien Rais Soroti Pudarnya Semangat Persatuan Umat Islam di Tengah Perdebatan Furuiyyah

Bogor – Semangat perjuangan dan persatuan umat Islam di Indonesia dinilai mulai memudar. Itulah salah satu musibah yang disoroti oleh Prof. Dr. M. Amien Rais, MA dalam sebuah pertemuan di Kota Bogor baru-baru ini. Menurutnya, perpecahan kerap muncul justru karena hal-hal yang bersifat furu’iyyah atau masalah cabang dalam agama.

“Jangan hanya karena azan sekali atau dua kali, qunut atau tidak qunut, lalu saling menyalahkan,” ujarnya.

Amien menegaskan, sikap saling menyalahkan dalam perkara-perkara seperti itu bukanlah ciri umat beriman yang seharusnya saling mengasihi.

Pernyataan itu disampaikannya dalam acara silaturahmi bersama sejumlah tokoh dan aktivis Islam di kediaman almarhum MS Kaban, Selasa lalu. Suasana hangat terasa di pertemuan yang dihadiri oleh beberapa nama seperti Ustaz Ansufri Idrus Sambo dari Partai Ummat, Ustaz Maizar Madsury dari Muhammadiyah Kota Bogor, dan Ustaz Abdul Halim dari Dewan Dakwah setempat. Tuan rumah, MS Kaban yang merupakan mantan menteri, juga disebut hadir.

Di sisi lain, Amien juga mengingatkan bahaya kemunafikan yang menggerogoti umat. Ia mengutip QS At-Taubah ayat 67 untuk menegaskan bahwa keimanan harus dibuktikan lewat amal nyata dan komitmen, bukan sekadar kata-kata.

“Islam itu sederhana: iman dan amal saleh. Ketika iman kuat maka setelah itu baru lahir amal saleh,” jelasnya.

Amal saleh itu, lanjutnya, bisa berupa mendirikan lembaga sosial, seperti sekolah atau rumah sakit, yang menjadi kekuatan umat. Potensi Islam sebagai penopang peradaban, menurut Amien, sangat besar asalkan umatnya fokus pada esensi, bukan cuma simbol dan formalitas belaka. Ia pun mengutip QS At-Taubah ayat 111 sebagai pengingat bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam selalu menuntut pengorbanan.

Sebagai pesan pribadi, Amien mengajak umat Islam membiasakan diri membaca Al-Qur’an. Waktu antara Maghrib dan Isya disebutnya sebagai momen yang baik untuk hal itu, agar cara pandang terhadap kehidupan menjadi lebih jernih.

Acara itu sendiri tidak berjalan satu arah. Dalam sesi dialog, peserta menyampaikan berbagai pandangan kritis, mulai dari soal konstitusi, politik nasional, sampai isu regenerasi kepemimpinan. Amien menanggapi dengan menekankan pentingnya belajar langsung dari para tokoh dan menjaga semangat juang generasi muda.

“Sekarang semua orang sibuk dengan gawai. Bahkan sekarang ada AI, hidup makin praktis,” katanya.

Namun begitu, ia mengingatkan agar kemudahan teknologi tidak sampai melalaikan mereka dari ilmu agama, yang tetap menjadi syarat utama bagi kebahagiaan dan perjuangan.

Pembicaraan juga menyentuh isu global. Amien mengkritik keras wacana Board of Peace atau dewan perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Palestina. Pernyataan Trump yang pernah mengusulkan pengosongan penduduk Gaza dinilainya sebagai sikap yang tidak berperikemanusiaan dan justru berbahaya bagi perdamaian dunia.

Sementara untuk kondisi dalam negeri, Amien menyoroti persoalan oligarki, konflik kepentingan, dan lemahnya etika kekuasaan. Baginya, itu semua adalah bagian dari krisis bangsa yang sedang berlangsung. Reformasi sejati, tegasnya, membutuhkan perubahan kekuasaan yang substantif, bukan cuma perbaikan kosmetik di permukaan.

Sebelum pertemuan ditutup, mantan Ketua MPR itu berpesan agar umat Islam tetap istiqamah. Berpegang pada prinsip dan tidak mudah menyerah meski menghadapi berbagai tekanan.

“Allah tidak pernah ingkar janji. Kemenangan akan datang bagi mereka yang terus berjuang,” pungkas Amien Rais.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler