Di Stasiun Tua, Sejarah Terukir: Mamdani Memimpin New York dengan Al-Quran dan Janji Keadilan Sosial

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 06:54 WIB
Di Stasiun Tua, Sejarah Terukir: Mamdani Memimpin New York dengan Al-Quran dan Janji Keadilan Sosial

Tepat di detik-detik pergantian tahun, suasana di stasiun kereta bawah tanah Old City Hall yang sudah lama sunyi mendadak hidup. Di tengah malam itu, Zohran Mamdani secara resmi dilantik menjadi Wali Kota New York City. Momen bersejarah ini mengukir namanya sebagai pemimpin pertama kota itu yang mengucap sumpah jabatan dengan meletakkan tangan di atas Al-Quran.

Pelantikan tengah malam di lokasi yang tak biasa itu bukan tanpa alasan. Stasiun tua itu dipilih sebagai simbol. Sebuah pernyataan tentang komitmennya pada para pekerja yang menjalankan roda transportasi kota setiap hari. Jaksa Agung Negara Bagian, Letitia James, yang memimpin prosesi sederhana namun khidmat itu.

Menariknya, ada lebih dari satu Al-Quran yang disiapkan untuk rangkaian acara pelantikan. Menurut New York Times, Mamdani akan menggunakan kitab milik kakeknya sendiri, plus satu Al-Quran bersejarah milik sejarawan Arturo Schomburg yang dipinjamkan Perpustakaan Umum New York untuk acara di stasiun tadi. Nanti di siang hari, saat upacara publik di Balai Kota, ia akan kembali menggunakan Al-Quran keluarga.

“Saya terpilih sebagai seorang sosialis demokrat dan saya akan memerintah sebagai seorang sosialis demokrat,”

Itulah penggalan tegas dari pidato singkat Mamdani usai disumpah. Kalimat itu sekaligus menegaskan posisinya sebagai tokoh sayap kiri yang selama ini vokal menyuarakan isu keterjangkauan hidup dan layanan publik.

Di sisi lain, kehadiran Senator Bernie Sanders yang rencananya akan menyampaikan sumpah jabatan di hari lain semakin mempertegas warna kepemimpinannya. Mamdani bukanlah politisi biasa. Ia adalah produk dari gelombang politik progresif yang semakin mendapat tempat.

Usai acara inti, perhatian pun beralih ke agenda nyata. Dalam pidato perdananya di City Hall, didampingi sang istri, Rama Duwaji, Mamdani langsung menyasar isu-isu pokok yang menjadi keresahan banyak warga. Suaranya lantang menentang ketimpangan.

“Kami akan bertanggung jawab kepada seluruh warga New York, bukan kepada miliarder atau oligarki mana pun yang mengira mereka dapat membeli demokrasi kita,”

Begitu deklarasinya. Ia kemudian merinci sejumlah prioritas yang akan segera digarap. Program penitipan anak universal, percepatan penyediaan rumah susun berbiaya terjangkau, dan yang tak kalah penting: layanan bus gratis di seluruh penjuru kota. Baginya, transportasi umum yang murah adalah urat nadi keadilan sosial.

Malam itu, di stasiun tua yang bisu, sebuah babak baru untuk New York dimulai. Bukan hanya tentang seorang wali kota baru, tetapi tentang sebuah janji untuk mengubah arah. Janji yang kini ditunggu realisasinya oleh jutaan pasang mata.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar