Padahal, mereka membawa muatan yang sangat dibutuhkan: 500 ton persediaan medis dan makanan untuk mematahkan blokade yang sudah berlangsung 18 tahun. Semuanya sia-sia. Pasukan khusus Israel merebut kapal-kapal itu dan menahan seluruh awaknya.
Kisah setelah penangkapan itulah yang kemudian beredar luas dan memicu kemarahan internasional.
Sejumlah tokoh penting yang jadi saksi mata, termasuk aktivis iklim Greta Thunberg, menceritakan pengalaman mengerikan mereka. Mereka melaporkan penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi selama berada dalam tahanan Israel. Laporan-laporan itu menggambarkan situasi yang jauh dari standar perlakuan terhadap tahanan sipil.
Jadi, rencana untuk 2026 ini seperti sebuah jawaban. Sebuah tekad yang bahkan lebih besar untuk menyampaikan solidaritas dan bantuan, meski risiko di depan mata tetap nyata. Mereka bersiap, dan dunia pasti akan menunggu.
Artikel Terkait
AS Siap Gelar Pertemuan dengan Iran Pekan Ini, Sinyal Damai Muncul di Tengah Konflik
Bapanas Pantau Pasar Makassar, Harga Pangan Pokok Kembali Stabil
ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Penyeberangan ke Siwa-Kolaka Sampai 10 April 2026
Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tiba di Rumah Duka di Pondok Pinang