Untungnya, proses hukum untuk Greta tidak berlarut-larut. Ia akhirnya dibebaskan dengan jaminan. Namun, ia harus melapor lagi pada Maret 2025. Tidak hanya Greta, tiga orang lain juga ikut diamankan di lokasi yang sama. Mereka diduga melakukan perusakan properti konon ada cat merah dan palu yang terlibat.
Ini bukan kali pertama Greta terlibat dalam gelombang aktivisme pro-Palestina sepanjang 2025. Beberapa bulan sebelumnya, pada Oktober, ia sempat ditahan dan dideportasi oleh otoritas Israel. Saat itu, ia bergabung dengan rombongan kapal kemanusiaan yang berusaha menerobos blokade menuju Gaza.
Sepertinya, suaranya untuk isu iklim kini juga makin kental diselingi dengan pembelaan untuk kemanusiaan di Gaza. Perjalanannya dari aktivis sekolah tunggal menjadi figur global yang vokal di berbagai isu memang tak pernah lepas dari kontroversi dan perhatian dunia.
Artikel Terkait
AS Siap Gelar Pertemuan dengan Iran Pekan Ini, Sinyal Damai Muncul di Tengah Konflik
Bapanas Pantau Pasar Makassar, Harga Pangan Pokok Kembali Stabil
ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Penyeberangan ke Siwa-Kolaka Sampai 10 April 2026
Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tiba di Rumah Duka di Pondok Pinang