Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke lokasi bencana di Gayo Lues, Aceh, menuai sorotan. Bukan karena bantuan yang dibawa, tapi justru karena sebuah janji: pemasangan internet satelit Starlink. Janji itu langsung disambut kritik pedas, terutama dari sosok yang dikenal blak-blakan, Susi Pudjiastuti.
Mantan Menteri Kelautan itu tak sungkan menyampaikan pandangannya. Lewat akun X-nya, Susi menilai aksi menebar janji di tengah pengungsian sudah tak lagi relevan. Baginya, yang dibutuhkan korban bencana adalah aksi nyata, bukan rencana.
"Seharusnya anda bisa datang dengan pesawat anda bawa Starlink 10, genset kecil 10 dan semuanya bisa langsung pasang. Tidak perlu tanya-tanya. Bawa lebih pun bisa,"
tulis Susi, Kamis lalu. Unggahannya itu terasa seperti semprotan dingin di tengah hiruk-pikuk politik bantuan.
Kritik Susi rupanya memantik reaksi berantai. Beberapa tokoh publik ikut angkat bicara, dan nada sindirannya tak kalah tajam. Jurnalis Dandhy Laksono, misalnya, menyoroti kemungkinan motif lain di balik kunjungan tersebut.
"Niatnya memang ngonten kampanye,"
tulisnya singkat, tanpa banyak basa-basi.
Ismail Fahmi, Pendiri Drone Emprit, ikut nimbrung. Namun, ia justru menganggap angka yang disebut Susi masih terlalu kecil. Menurutnya, kapasitas seorang wakil presiden seharusnya jauh lebih besar.
"Kalau 10 itu kelasnya Drone Emprit, Bu. Kelas wapres bisa lah 100 Starlink,"
timpalnya. Komentar itu seperti menyoroti gap antara ekspektasi dan realitas bantuan yang diberikan.
Lantas, bagaimana sebenarnya kronologi janji itu muncul? Semuanya berawal saat Gibran menyambangi Posko Pengungsian BLK Blangkejeren, Rabu (17/12/2025). Di sana, terjadi dialog dengan warga yang mengeluhkan sinyal komunikasi yang masih amburadul pasca-bencana.
Mendengar keluhan itu, Gibran pun langsung merespons dengan sebuah solusi.
"Nanti kita segera pasangkan Starlink ya biar bisa segera menghubungi teman-teman, saudaranya di tempat lain. Internetnya belum jalan ya? Kita segerakan ya,"
ujarnya di hadapan para pengungsi.
Selain internet, tentu saja ada janji-janji lain. Perbaikan jembatan, pasokan BBM, dan listrik juga masuk dalam daftar. Gibran juga menginstruksikan Bupati setempat untuk memprioritaskan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Ia menegaskan kedatangannya adalah untuk memastikan logistik berjalan, atas perintah Presiden. Namun begitu, di mata banyak pengamat dan warganet, yang terlihat justru sebuah kontras. Di satu sisi, kondisi darurat yang membutuhkan tindakan cepat. Di sisi lain, janji yang masih harus menunggu realisasi "nanti".
Nuansa naratifnya kuat: di lokasi bencana, kata "segera" sering kali terasa terlalu lama.
Artikel Terkait
Everton Vs Manchester City 3-3: Drama Enam Gol, Doku Selamatkan The Citizens di Menit Akhir
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan
Polisi Bongkar Judi Online Skala Besar di Batam, Dua Tersangka Kelola Lebih dari 200 Ribu Akun
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi