Qatar Soroti Pelanggaran Israel: Mediator Internasional Terpojok, Gaza Terus Berdarah

- Kamis, 18 Desember 2025 | 21:50 WIB
Qatar Soroti Pelanggaran Israel: Mediator Internasional Terpojok, Gaza Terus Berdarah
Pernyataan Qatar Soal Gaza

Doha – Pelanggaran Israel yang terjadi berulang kali di Jalur Gaza, menurut Qatar, bukan cuma merusak gencatan senjata. Tindakan itu juga mempermalukan para mediator internasional yang berusaha keras menahan situasi agar tidak meledak.

Pernyataan tegas ini disampaikan langsung oleh Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, yang menjabat sebagai Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar. Ia tak sungkan menyebut posisi mediator kini jadi sangat canggung.

Menurut laporan yang beredar Kamis lalu, Sheikh Mohammed mengungkapkan Doha sudah berkali-kali menyoroti masalah pemboman dan operasi pembunuhan Israel di Gaza. “Ini berdampak serius pada stabilitas,” katanya. Bukan cuma untuk Gaza sendiri, tapi untuk seluruh kawasan.

Di sisi lain, ia mendesak agar bantuan kemanusiaan bisa masuk tanpa syarat. Tanpa halangan apapun. Qatar juga menolak skenario keamanan yang cuma menguntungkan satu pihak dan mengorbankan yang lain.

“Kami menolak konsep ‘Pasukan Stabilisasi’,” tegasnya. Baginya, ide semacam itu justru berpotensi mengukuhkan ketidakadilan dan memperpanjang penderitaan warga sipil Palestina.

Sebelumnya, Sheikh Mohammed sudah memperingatkan kemungkinan perang skala penuh bakal kembali terjadi. Penyebabnya ya itu tadi, pelanggaran Israel yang terus berulang. Ia menegaskan, rakyat Gaza tidak mau pergi dari tanah mereka. Mereka tak bisa dipaksa mengungsi, sekalipun tekanan militer dan krisis kemanusiaan yang mereka hadapi begitu ekstrem.

Dalam kesempatan itu, ia kembali menegaskan komitmen Qatar pada penyelesaian diplomatik. Tapi ia juga menyayangkan satu hal: komunitas internasional seolah menjadi sandera agenda kelompok sayap kanan ekstrem. Agenda yang, dalam pandangannya, berusaha melenyapkan rakyat Palestina dan mengabaikan hukum internasional.

Sementara di lapangan, angka yang dirilis Hamas cukup mencengangkan. Sejak gencatan senjata berlaku, pelanggaran Israel tercatat sudah lebih dari 813 kasus. Rata-ratanya hampir 25 insiden per hari.

Hamas sendiri menganggap eskalasi ini sangat berbahaya. Bisa mengancam kelangsungan gencatan senjata dan melemahkan upaya menciptakan ketenangan yang bertahan lama.

Data dari pihak Palestina menyebutkan, rangkaian pelanggaran itu telah menewaskan 393 warga sipil. Luka-luka diderita 1.074 orang lainnya. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Angka-angka itu, sederhananya, menggambarkan harga kemanusiaan yang terus membengkak. Di tengah kecaman internasional yang berulang, situasi di Gaza masih jauh dari kata adil atau manusiawi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar