Untuk tarifnya, mereka mematok biaya yang bervariasi, mulai Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per tindakan. Nilainya cukup fantastis. Edy menyebut total keuntungan yang berhasil dikumpulkan tersangka dari 2023 sampai 2025 mencapai Rp 2,6 miliar lebih.
‘Dokter’ yang Ternyata Cuma Lulusan SMA
Di balik operasi ini, ada seorang tersangka berinisial NS yang perannya sangat krusial. Dialah yang bertindak langsung sebagai ‘eksekutor’ atau orang yang melakukan aborsi, berlagak layaknya dokter obgyn.
“Saudari NS, kami bilang saudari NS, ini memiliki peran sebagai eksekutor, atau dokter, seolah-olah sebagai dokter obgyn. Dari perannya tersebut, dia memperoleh bayaran sebesar Rp 1.700.000,” papar Edy.
Namun begitu, hasil penyelidikan polisi mengungkap fakta yang mengejutkan. NS sama sekali tidak punya latar belakang kesehatan. Pendidikannya cuma sampai tingkat SMA.
“Dia tidak mempunyai background kesehatan. Kalau lulusannya, dia lulusan SMA, ya,” tegas Edy.
Meski begitu, pengalaman dia ternyata tidak nol. NS pernah terlibat sebagai asisten dalam praktik aborsi ilegal lain sebelumnya. Itu mungkin yang memberinya keberanian untuk bertindak sendiri kali ini.
“Tetapi dia pernah ikut sebagai asisten, ya, asisten, mungkin juga dulu-dulunya juga mungkin praktik ilegal juga, ya, tapi dia pernah sebagai asisten untuk melakukan aborsi,” katanya.
Terlepas dari pengalaman ‘magang’-nya itu, polisi menegaskan NS tetap tidak punya kompetensi maupun kewenangan medis. Tindakannya sangat berbahaya.
“Tetapi yang jelas, dia tidak punya, tidak berkompeten dalam bidangnya, karena dia memang hanya sebagai lulusan SMA,” pungkas Edy.
Artikel Terkait
Generasi Layar: Saat Ponsel Menggerogoti Kemampuan Fokus Anak Muda
Mobil Terbakar Hebat di Jagorawi, Lalu Lintas Malam Terkunci
Bocah dengan Laptop Pecah Ditemukan Sendirian di Sleman
Dokumen Epstein Ungkap Transaksi Properti Trump dan Kaitan dengan Pengusaha Indonesia