Gen Z Terjepit: Pinjol, Judol, dan Algoritma yang Mengintai

- Senin, 15 Desember 2025 | 09:00 WIB
Gen Z Terjepit: Pinjol, Judol, dan Algoritma yang Mengintai
Artikel - Generasi Muda di Persimpangan

Gen Z, Algoritma, dan Jerat yang Tak Kasat Mata

Hidup generasi muda sekarang, terutama Gen Z, serasa sesak. Ruang untuk bernapas hampir tak ada. Setiap hari, di layar ponsel yang selalu menyala, mereka disergap oleh dua hal: pinjaman online dan judi online. Iklannya muncul terus-menerus, bak iklan mi instan di televisi jaman dulu. Algoritma yang seharusnya memudahkan, justru berubah jadi predator. Ia tahu persis titik lemah kita.

Tekanan ekonomi, gaya hidup yang serba wah, dan keinginan untuk dapat segalanya dengan instan, mendorong mereka mencari jalan pintas. Dana segar, dengan cepat. Akhirnya, halal atau haram pun jadi kabur. Tawaran menggiurkan dari pinjol dan judol pun terasa seperti solusi. Padahal, itu awal dari jebakan.

Menurut sejumlah saksi, fenomena ini bukan kebetulan belaka. Ada penelitian menarik dari Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).

"Temuan kami menunjukkan 58 persen Gen Z menggunakan pinjol bukan untuk kebutuhan pokok, tapi lebih untuk gaya hidup dan hiburan," jelas Dr. Vera Intanie Dewi, Ketua Program Studi Magister dan Doktor di fakultas tersebut.

Angka itu berbicara keras. Gen Z perlahan didorong masuk ke jurang, tanpa mereka sadari betapa dalamnya. Ujung-ujungnya? Ketergantungan finansial, stres yang mencekik, bahkan tindakan nekat.

Kalau kita lihat lebih jeli, akar masalahnya bukan cuma di moral anak muda. Ada tekanan struktural dari sistem ekonomi yang berlaku. Pendapatan rakyat biasa tak pernah cukup mengejar harga kebutuhan pokok yang melambung. Lapangan kerja susah. Hidup makin terjepit. Di titik itu, pinjol dan judol muncul bagai dewa penolong. Melegakan sesaat, tapi menghancurkan untuk jangka panjang.

Di sisi lain, peran negara terasa kurang greget. Regulasinya ada, tapi implementasinya bolong-bolong. Peringatan dikeluarkan, tapi iklan judol tetap bebas berkeliaran di media sosial. Yang lebih parah, sistem pendidikan dan lingkungan sosial kita justru menormalisasi gaya hidup konsumtif. Segalanya diukur dari materi. Halal-haram jadi pertimbangan nomor sekian.

Lingkungan digital pun tak kalah kejam. Platform media besar punya logika tunggal: apa yang disukai pengguna, itulah yang diprioritaskan. Meski konten itu merusak. Algoritma tidak punya nurani. Ia hanya peduli pada durasi, klik, dan keuntungan. Inilah wajah kapitalisme digital yang sebenarnya. Kita bukan warga negara yang dilindungi, melainkan pasar yang dieksploitasi.

Lalu, apa jalan keluarnya? Jelas, generasi muda butuh sistem alternatif. Sistem yang menjamin kesejahteraan secara struktural, bukan sekadar janji. Bagi banyak pihak, sistem itu adalah Islam.

Dalam pandangan Islam, negara punya kewajiban mutlak memenuhi kebutuhan dasar setiap warganya. Tanpa syarat, dan tanpa jerat utang berbunga. Negaralah pelayan rakyat, bertugas memastikan seluruh hajat hidup terpenuhi. Baik Muslim maupun non-Muslim.

Kesenjangan ekonomi yang menganga dalam sistem kapitalis, kecil kemungkinan terjadi di sini. Islam punya aturan distribusi kekayaan yang jelas. Sumber daya alam dikelola untuk kemaslahatan rakyat banyak, bukan segelintir orang. Riba dihapuskan. Rakyat dilindungi dari praktik ekonomi predatoris.

Pendidikan juga memegang peran vital. Tujuannya bukan cuma transfer ilmu, tapi membentuk kepribadian islami. Generasi dididik untuk menjadikan halal-haram sebagai kompas hidup, bukan sekadar mengikuti hawa nafsu. Dengan fondasi ini, judi dan gaya hidup konsumtif berlebihan tak akan laku.

Bahkan di ruang digital, Islam punya visi. Infrastruktur digital dibangun untuk masyarakat yang beradab. Konten merusak dan normalisasi maksiat tak akan diberi panggung. Sains dan teknologi diarahkan untuk kemaslahatan, bukan sekadar memanen profit dari ketergantungan anak muda.

Sekarang, saatnya generasi muda Muslim menyadari identitasnya. Mereka bukan sekadar target pasar. Bukan konsumen yang hanya bisa dikuras isi dompetnya.

Mereka adalah pewaris peradaban besar. Pemimpin dunia yang pernah tegak dengan adab dan ilmu. Kesadaran ini hanya bisa tumbuh lewat pembinaan berkelanjutan, lewat tsaqafah Islam yang mendalam.

Solusi hakikinya bukan cuma memblokir aplikasi atau menambah regulasi. Tapi membangun cara pandang baru. Bahwa sistem Islamlah yang paripurna, yang benar-benar melindungi manusia dari ujung rambut sampai kaki.

Maka, semua elemen masyarakat perlu terlibat. Dorong generasi muda masuk dalam aktivitas dakwah yang mencerahkan. Satukan langkah dengan kelompok dakwah Islam yang ideologis. Bangun kesadaran bersama. Karena jika dibiarkan terus terperangkap dalam pusaran algoritma kapitalis, yang hilang bukan cuma masa depan mereka. Tapi masa depan peradaban kita semua. Wallahu'alam bissawab.

Jannatu Naflah, Praktisi Pendidikan

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler