Drama pemerasan Bang Jarwo dan Syakira akhirnya tuntas di pengadilan. Vonis inkracht sudah dijatuhkan untuk keduanya. Di mata para relasi abal-abalnya, reputasi Bang Jarwo hancur berantakan. Tapi, kemenangan hukum Fitrah ternyata pahit rasanya. Di rumah, dia justru menelan kekalahan yang telak.
Keheningan antara dia dan Arine itu jauh lebih menyiksa. Lebih pedih dari segala ancaman pidana atau black campaign wartawan bodrex sekalipun. Melihat Fitrah yang hancur dan tak bisa fokus, Bos Top akhirnya bertindak.
Suatu pagi, Fitrah dipanggil ke ruangannya.
"Fit, kami putuskan untuk memindahkan kamu dari liputan lapangan utama," ujar Bos Top. Suaranya lembut, mengingatkan Fitrah pada suara perawat Arine saat menenangkan pasien.
Jantung Fitrah langsung berdesir kencang. Dia mengira ini akhirnya. Pemberhentian karena melanggar kode etik pernikahan dan merusak image redaksi.
"Kami promosikan kamu jadi Asisten Redaktur Liputan Umum," lanjut Bos Top, memecah kecemasannya. "Tugasnya lebih ke arah penugasan wartawan muda, koordinasi administrasi, pastikan alur berita lancar. Kamu nggak akan sering ke lapangan, apalagi sampai larut malam."
Fitrah cuma bisa diam. Ini jalan keluar yang elegan banget, restorative justice ala bosnya. Dengan posisi baru, jadwal kerjanya jadi teratur, waktu pulang pasti. Dan yang utama, dia punya waktu untuk membenahi yang retak dengan Arine, menjalani masa percobaan itu.
"Kami tahu kamu butuh waktu, Fit. Kabar Kilat ini keluarga. Kami dukung, tapi jangan diulangi lagi kesalahan karaoke itu ya," tambah Bos Top, nada seriusnya kali ini betulan.
"Terima kasih, Bos," ucap Fitrah, menahan haru. "Terima kasih banyak."
Job desk baru itu mengubah hidupnya. Ruangannya sekarang lebih sering berbau kopi kantor dan tumpukan laporan, bukan aroma antiseptik UGD atau udara malam yang penuh godaan. Setiap sore, tepat pukul lima, Fitrah sudah berjalan keluar. Menjemput Arjuna dan Kinara, lalu pulang ke rumah tempat Arine menunggu.
Awalnya, Arine masih dingin. Dinginnya kayak AC 24 PK di ruangan Jaksa Bahar dulu. Obrolan mereka cuma seputar anak dan urusan rumah. Tapi Fitrah nggak menyerah. Dia pakai waktu luangnya untuk masak, bantu pekerjaan rumah, dan yang paling krusial: jadi pendengar yang baik buat Arine. Dia berusaha jadi suami siaga.
Malam-malam, setelah anak-anak tidur, Fitrah duduk di samping Arine. Dia minta istrinya cerita tentang hari-harinya di rumah sakit. Perlahan, es yang membeku mulai mencair. Mereka mulai ngobrol lagi. Bukan tentang perselingkuhan yang menyakitkan itu, tapi tentang masa depan, anak-anak, dan pondasi keluarga mereka.
Fitrah belajar satu hal penting: integritas itu nggak cuma soal validasi fakta berita. Tapi juga soal kejujuran pada janji pernikahan dan komitmen keluarga. Jadi Asred di balik meja mungkin membosankan, kurang adrenalin. Tapi ketenangan yang didapat? Jauh lebih berharga ketimbang sensasi liputan investigasi atau fee politik.
Beberapa bulan berlalu, tawa Arine pelan-pelan kembali terdengar di rumah. Arjuna dan Kinara pun ceria lagi. Fitrah Nusantara, sang wartawan yang sempat tersesat, akhirnya menemukan titik keseimbangan.
Dia kembali ke jalan yang benar. Kali ini, dengan jabatan baru, hati yang lebih bijak, dan tekad bulat untuk menjaga keutuhan keluarganya cinta sejati yang justru dia temukan di UGD dulu. Aroma tinta di kantor tetap sama, tapi sekarang, aroma kebahagiaan di rumah terasa jauh lebih manis. Sekuat asas bahwa keluarga bahagia itu memang sebuah kewajiban.
Bersambung – Redaktur Berhati Baja dan Keseimbangan Hidup
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu