Sutoyo Abadi Soroti Banjir Bandang: Yang Rusak Alam Kita, Penguasa Sendiri

- Minggu, 14 Desember 2025 | 08:00 WIB
Sutoyo Abadi Soroti Banjir Bandang: Yang Rusak Alam Kita, Penguasa Sendiri

Xi Jinping Beli Tambang dan Kayu dari Indonesia, Sutoyo Abadi: Perusak Alam Itu Penguasa Kita Sendiri

Duka kembali menyelimuti negeri. Bencana alam datang lagi, merenggut nyawa-nyawa yang tak berdosa. Harta benda pun hanyut tak bersisa, diterjang arus banjir bandang yang ganas.

Menurut Sutoyo Abadi, yang terjadi bukanlah fenomena biasa. "Cuma di Indonesia kayaknya," ujarnya kepada redaksi pada 14 Desember 2025, "banjir bandangnya bukan cuma bawa air dan lumpur. Tapi juga gelondongan kayu besar-besar. Menerjang apa saja di depannya."

Bagi dia, ini jelas bukan kebetulan alam belaka.

"Ini sudah direncanakan dengan rapi. Sistematis," imbuhnya tegas. "Dilakukan oleh para penghianat, perampok lingkungan yang menghancurkan alam kita."

Sutoyo menggambarkan alam yang murka. Hutan sebagai benteng alami dihancurkan. Kayu-kayu yang seharusnya diamankan justru kabur bersama air bah, seolah menunjukkan diri.

Lalu, dengan nada getir, ia seolah menghadirkan dialog antara kayu gelondongan dan manusia.

"Aku menerjang karena kalian cuma diam saat aku dibunuh ditebang oleh manusia-manusia serakah dan bangsat," katanya membayangkan suara kayu itu. "Aku terjang semuanya bukan untuk jahat, cuma peringatan buat kalian."

"Kalian tidak salah, tapi jadi korban. Korban pembalakan liar yang tak terkendali, perambahan hutan yang menggila. Hewan dan air juga marah. Tempat mereka sudah terusik, hutan tempat bersembunyi sudah habis dibabat."

Data yang ia rujuk dari Kompas (12/12/2025) cukup mengerikan. Di Aceh, Sumut, dan Sumbar, hilangnya hutan dari 1990 hingga 2024 rata-rata mencapai 36.305 hektar per tahun. Kalau dihitung per hari, angkanya sekitar 99,5 hektar luasan yang fantastis untuk lenyap setiap 24 jam.

"Jadi, kerusakan ekosistem ini kan ulah sendiri," tegas Sutoyo. "Ulah penguasa kita yang tolol dan ugal-ugalan dalam mengelola keseimbangan alam."

Di sinilah, menurutnya, kualitas negara diuji. Mampukah kita menjadikan bencana ini sebagai pelajaran, sebagai titik balik kebijakan? Bukan sekadar rutinitas penanganan darurat yang selalu datang terlambat, setelah rumah-rumah musnah dan nyawa rakyat melayang.

Negara harus konsisten. Ketegasan jangan cuma jadi pidato omong kosong di podium, atau aksi saat sorotan kamera media sedang terang. Lalu hilang begitu perhatian publik meredup.

Pemerintah harus berhenti menebar janji dan pencitraan. Waktunya untuk perubahan nyata. Menjaga alam bukan pilihan, tapi keharusan mutlak sebagai penyangga hidup bangsa ini.

"Kalau pemerintah tetap bandel dan abai," Sutoyo memperingatkan, "bencana yang lebih besar pasti datang. Pulau-pulau bisa lenyap tenggelam. Bukan cuma Sumatera, tapi Indonesia bisa saja amblas ke dasar lautan."

Pada akhirnya, ia menyoroti pernyataan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping.

"Komentar Xi Jinping itu benar," katanya. "Cina cuma mengangkut dan membeli hasil tambang dan kayu dari sini. Mereka tak punya maksud merusak alam Indonesia. Yang merusak, ya, pejabat dan penguasa Indonesia sendiri."

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler