Ibadah di Era Digital: Antara Pencarian Makna dan Godaan Swipe

- Minggu, 14 Desember 2025 | 07:06 WIB
Ibadah di Era Digital: Antara Pencarian Makna dan Godaan Swipe

Polykarp Ulin Agan

Dunia digital telah mengubah segalanya, tak terkecuali cara kita beragama. Zona nyaman tradisional seperti masjid, gereja, atau pura kini bukan lagi satu-satunya tempat mencari ketenangan batin. Ada pergeseran yang pelan namun pasti, menuju praktik keagamaan yang serba digital dan lebih personal. Sosiolog Adam Possamai punya istilah menarik untuk ini: "The i-zation of Society".

Gagasan itu ia uraikan dalam bukunya, The i-zation of Society, Religion, and Neoliberal Post-Secularism (2017). Intinya, hidup kita sekarang didikte oleh digitalisasi, individualisasi, dan budaya instan. Nah, yang menarik, ketiga hal ini ternyata merembes juga ke ranah spiritual. Ibadah dan interaksi keagamaan pun ikut berubah wajah.

Ketika Agama Menyentuh Layar

Sebuah survei di Journal of Ethnic and Cultural Studies (2021) mengungkap motivasi orang Indonesia mengikuti konten religius di media sosial. Ternyata, ada tiga hal utama yang dicari. Pertama, pencerahan spiritual. Lalu, informasi berbasis iman. Dan yang ketiga, semacam kesejahteraan batin dari konten keagamaan itu sendiri.

Dari sini, perlahan-lahan makna otoritas pun bergeser. Apa yang dulu dipegang teguh oleh institusi dan figur seperti ustad atau pendeta, kini bisa jadi berbeda. Mircea Eliade menyebut "yang religius" itu kini tak lagi terikat tembok fisik. Siapa pun bebas mencari "atap" spiritual di akun mana pun yang membuatnya nyaman, mencari figur yang kata-katanya menyentuh relung hatinya.

Namun begitu, kalau dicermati, fenomena ini tak lepas dari logika pasar neoliberal yang merambah ke mana-mana, termasuk ke spiritualitas. Possamai menyebutnya punya elective affinity, semacam ketertarikan timbal balik. Agama pun mulai beradaptasi dengan mekanisme pasar, branding, dan standar efisiensi entah disengaja atau tidak.

Di Indonesia, buktinya bisa dilihat di mana-mana. Seminar agama yang diproduksi bak konser profesional, merchandise religius, sampai pengajar agama yang membangun "personal brand" lewat media sosial. Lihat saja akun Instagram pengajian atau ibadah tertentu, pengikutnya bisa ratusan ribu.

Kontennya didesain profesional, tentu saja.

Para "aktor" di baliknya berusaha menarik perhatian, meningkatkan engagement, bahkan mendatangkan sponsor. Agama, dengan dalih affinity tadi, tak cuma soal pengalaman batin lagi. Ia juga bisa jadi komoditas yang dikonsumsi.

Tanpa sadar, kita terdorong ke ranah yang serba instan, diatur oleh hukum "swipe" dan "like". Popularitas ajaran agama mulai diukur dari jumlah share, bukan kedalaman pesannya. Akibatnya, otoritas pun bergeser. Dari ulama atau pastor tradisional, beralih ke influencer digital yang mungkin populer, tapi kompetensi teologisnya belum tentu teruji.

Bukan cuma otoritas yang berubah. Cara berdoa pun ikut beradaptasi. Sekarang, lewat aplikasi, orang bisa "menekan tombol" untuk berdoa atau mengikuti kebaktian virtual yang dirancang untuk kenyamanan maksimal. Prinsip McDonaldization ala George Ritzer efisiensi, prediktabilitas, kontrol ikut merasuki pengalaman religius. Semua distandarkan agar cepat, mudah, dan konsisten. Bahkan, kemasannya kerap mirip hiburan.

Di Persimpangan: Iman atau Komoditas?

Di titik inilah dilema etisnya muncul. Pertanyaannya sederhana tapi sulit: apakah makna spiritual agama tetap terjaga, atau justru tunduk pada logika konsumsi? Di satu sisi, digitalisasi memang memperluas akses. Tapi di sisi lain, ia juga memicu fragmentasi dan individualisasi yang ekstrem.

Komunitas religius tradisional pelan-pelan kehilangan peran sentralnya. Praktik beragama yang dulu kolektif, kini jadi pengalaman personal yang disaring sesuai preferensi digital masing-masing orang.

Bahaya fragmentasi ini nyata, apalagi di Indonesia dengan penetrasi internet yang tinggi, menembus lebih dari 78% populasi. Dengan angka segitu, praktik keagamaan digital pasti akan makin masif. Aplikasi doa, streaming pengajian, komunitas diskusi online semuanya mendorong orang untuk beralih ke platform digital.

Tapi masalahnya, ketika agama dibingkai dalam logika efisiensi dan pengalaman pengguna, mau tak mau ia harus ikut aturan pasar: menarik, cepat, dan menghibur. Alhasil, iman bisa berubah sekadar menjadi "user experience".

Fenomena ini seperti membenarkan tesis Possamai tentang post-secularism. Wajah agama kembali ke ruang publik, tapi dalam bentuk yang sudah "dibentuk ulang" oleh budaya yang berubah. Di Indonesia, di mana agama punya peran sosial-politik yang vital, pembentukan ulang ini terjadi lewat tempaan kapitalisme digital. Orang bisa memilih cara beragama yang cocok dengan seleranya, sekaligus mengonsumsi konten keagamaan layaknya produk digital. Istilah sederhana seperti "like" atau "swipe" pun jadi bagian dari ritual modern, simbol validasi spiritual di dunia virtual.

Lantas, tantangan terbesarnya apa? Mungkin, bagaimana menyeimbangkan kebutuhan spiritual yang otentik dengan kenyamanan digital yang instan. Agama harus tetap menjadi ruang transformasi batin yang mendalam, bukan cuma produk yang dikonsumsi sekali lalu dilupakan. Dalam dunia di mana swipe, like, dan berdoa bisa terjadi dalam satu genggaman, tugas kita adalah memastikan iman tetap manusiawi. Bukan cuma user-friendly.

Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler