Dandhy Laksono Buka Suara Soal Penggundulan Hutan Terparah di Podcast dr. Richard Lee

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 17:20 WIB
Dandhy Laksono Buka Suara Soal Penggundulan Hutan Terparah di Podcast dr. Richard Lee

Kemarin, podcast dr. Richard Lee ramai diperbincangkan. Ia kedatangan tamu spesial: Dandhy Laksono. Topiknya berat, tapi relevan: soal banjir besar di Sumatera dan kaitannya dengan penggundulan hutan yang masif.

Bagi yang belum kenal, Dandhy bukan sosok baru. Dia jurnalis investigasi sekaligus aktivis lingkungan yang namanya melekat dengan film-film dokumenter tajam. Lewat rumah produksinya, Watchdoc, ia kerap mengangkat isu sosial dan politik yang jarang diusik media arus utama.

Kehadirannya di podcast itu langsung disambut hangat para pendengar.

"Dhandy ini level keberaniannya diatas rata2 manusia biasa.. salam hormat," tulis seorang netizen.

Yang lain setuju. "Yg setuju ini Narsum terbaik tahun 2025🖐️," komentar akun @AriHamRus.

Tak ketinggalan, pujian datang dari @ssheismonica yang menulis, "PODCAST DENGAN NARSUM TERBAIK SEJAUH INI🎉".

Pembicaraan pun berjalan mendalam. Di tengah diskusi, dr. Richard Lee melontarkan pertanyaan yang cukup menghentak. Pertanyaan yang mungkin ada di benak banyak orang, tapi jarang dijawab dengan blak-blakan.

DI ERA PRESIDEN SIAPA HUTAN PALING PARAH DIHABISI?

Nah, ini dia pertanyaan intinya. Lalu, apa jawaban Dandhy Laksono?

Jawabannya tentu tak sesederhana menyebut satu nama. Tapi, dalam cuplikan yang beredar di media sosial, Dandhy memberikan penjelasan yang gamblang. Ia menyoroti pola dan kebijakan yang terjadi selama bertahun-tahun.

Bagi yang penasaran dengan cuplikannya, bisa lihat unggahan dari akun @indepenSumatera di Twitter.

[Cuplikan video wawancara dengan Dandhy Laksono]

Untuk yang ingin menyimak percakapan lengkapnya, dari awal sampai akhir, silakan tonton episode podcast selengkapnya di platform streaming.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler