Pasca Tragedi, Pondok Pesantren Al Khoziny Mulai Dibangun Kembali

- Kamis, 11 Desember 2025 | 13:54 WIB
Pasca Tragedi, Pondok Pesantren Al Khoziny Mulai Dibangun Kembali

Diawali dengan groundbreaking simbolis, rekonstruksi Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo akhirnya dimulai. Proses pembangunan ulang ini dipimpin langsung oleh Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin. Sebuah langkah konkret pemerintah pasca tragedi memilukan yang merenggut puluhan nyawa.

Ingatkah? Akhir September lalu, bangunan pondok itu ambruk saat para santri sedang khusyuk salat. Peristiwa nahas itu menewaskan 67 orang. Suasana duka yang dalam masih terasa, namun kini mulai diselingi harapan baru dengan dimulainya pekerjaan di lokasi kejadian.

Cak Imin, dalam sambutannya, berusaha melihat sisi lain dari musibah ini. Baginya, momentum ini harus jadi titik balik.

“Ini menjadi momentum kita untuk muhasabah, evaluasi, kegotongroyongan, dan kebersamaan dalam upaya mewujudkan sistem pendidikan yang utuh menyeluruh, termasuk menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai buat para santri-santri kita,” ujarnya Kamis lalu (11/12).
“Kita semua harus menjadikan momentum hari ini dan yang lalu sebagai pengingat, wake up call, penyadar. Sebagai tempat kita untuk bangkit melihat dan menata masa depan yang lebih baik,” sambungnya.

Dia menegaskan komitmen pemerintah, khususnya dari pimpinan seperti Prabowo Subianto, terhadap dunia pesantren. “Pak Prabowo langsung punya komitmen dan keinginan yang tinggi kalau sudah menyangkut pesantren. Karena beliau menyadari penuh sejarah pesantren,” tutur Cak Imin. Poinnya jelas: para santri berhak belajar dengan rasa aman dan nyaman.

Di sisi lain, rasa syukur yang mendalam diungkapkan oleh pengasuh ponpes, KH Abdus Salam Mujib. Perhatian pemerintah ini, baginya, adalah sebuah anugerah yang tak terbalas.

“Alhamdulillah pemerintah sangat mencurahkan perhatiannya kepada kami. Kami tidak bisa membalas apa pun, mudah-mudahan selalu dibimbing dan diberikan pertolongan oleh Allah SWT,” kata Kiai Abdus Salam.

Pesantren yang ia asuh ini bukanlah tempat biasa. Menurut penuturannya, Al Khoziny telah berdiri kokoh jauh sebelum Indonesia merdeka. “Pesantren kami ini sebetulnya berdiri di sekitar tahun 1918 atau 17,” ucap dia. Sejarah panjang itu kini memasuki babak baru, sebuah babak rekonstruksi penuh harap setelah reruntuhan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler