“LISA merupakan bagian dari program komprehensif UGM University Services,”
Ujarnya dalam keterangan resmi pada Kamis lalu. Intinya, aplikasi ini dibangun oleh Biro Transformasi Digital dan Direktorat Kemahasiswaan. Tujuannya sederhana: jadi pusat informasi terpadu buat mahasiswa dan juga masyarakat.
Namun begitu, Andi berkeras bahwa LISA punya karakter yang berbeda. Jangan disamakan dengan ChatGPT atau Gemini yang bersifat komersial dan lebih umum.
“Basis data LISA terbatas pada informasi internal UGM terkait akademik, kemahasiswaan, administrasi, dan pengembangan diri. Ia tidak memuat data pribadi,”
Jelasnya. Singkatnya, ruang lingkupnya memang terbatas. Mungkin itu juga yang jadi penyebab, kenapa jawabannya bisa terdengar kurang pas untuk pertanyaan-pertanyaan di luar konteks kampus.
Jadi, entah ini kebetulan atau bukan, status "dalam peningkatan" LISA muncul tepat setelah kontroversi kecil itu. Yang jelas, publik sekarang hanya bisa menunggu kapan asisten virtual itu kembali online, dan apakah akan ada perbaikan signifikan setelahnya.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral