Din Syamsuddin Apresiasi Liga Muslim Dunia, Sebut Pemersatu Umat dan Pembangkit Peradaban
Di Gedung Nusantara V MPR RI, Senayan, Rabu (4/12/2025) lalu, suasana tampak hangat. Sekitar lima ratus orang memenuhi ruangan. Mereka adalah tokoh ulama, cendekiawan, pimpinan pesantren, hingga mahasiswa dari berbagai kampus Islam di Jakarta. Pertemuan itu menghadirkan Sekjen Liga Muslim Dunia, Dr. Muhammad Abdel Karim al-‘Isa, bersama Ketua MPR RI Ahmad Muzani.
Nah, di forum yang dikordinasikan oleh KH Anizar Masyhadi itu, hadir juga sejumlah nama besar. Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nur Wahid dan Wakil Ketua Umum MUI KH Dr. Cholil Nafis turut hadir. Begitu pula pimpinan Forum Ponpes Alumni Gontor.
Di antara para tokoh, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin mendapat kesempatan berbicara. Ia mewakili suara ulama dan zuama Indonesia. Dan apresiasinya terhadap Liga Muslim Dunia atau Rabithah al-‘Alam al-Islami pun mengalir.
Menurut Din, lembaga yang dipimpin Dr. Al-‘Isa itu punya peran krusial. “Aktif mempromosikan konsep Wasatiyyat Islam,” katanya. Tak hanya itu, upaya mendorong dialog lintas agama di berbagai negara juga diapresiasi. Bagi Din, langkah-langkah semacam ini berkontribusi besar. Citra Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin jadi semakin kuat.
Din Syamsuddin, yang juga Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam, lantas menyinggung tantangan global. Menurutnya, tantangan yang dihadapi umat Islam sekarang ini besar dan kompleks. Maka, ia menekankan pentingnya strategi tertentu.
“Perlu strategi ‘perjuangan menghadapi’, bukan sekadar ‘perjuangan melawan’,” tegasnya.
Maksudnya? Dunia Islam, dalam pandangannya, harus menawarkan sesuatu. Yakni sebuah peradaban alternatif yang berorientasi pada jalan tengah. Peradaban yang mengedepankan perdamaian, inklusivitas, dan tentu saja kerukunan.
Di sisi lain, Din melihat langkah konkret yang baru saja diambil Liga Muslim Dunia. Pekan sebelumnya, mereka meluncurkan platform internet bernama Minhaj. Din menilai ini sebagai langkah strategis yang tepat.
Platform itu bisa jadi sarana penting. Fungsinya untuk mengarusutamakan wajah Islam yang damai, adil, dan progresif.
Mengakhiri sambutannya, Din Syamsuddin berkomentar singkat tentang platform tersebut.
“Walau terlambat, namun lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menutup apresiasinya. Sebuah apresiasi yang melihat Liga Muslim Dunia bukan hanya sebagai pemersatu, tapi juga pembangkit peradaban Islam di tengah tantangan zaman.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu