Dugaan Ijazah dalam Sorotan: Sebuah Kritik Humanistik terhadap Media dan Masyarakat
Ditulis oleh: Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa
Pemberitaan mengenai dugaan ijazah Presiden Joko Widodo telah berlangsung layaknya sinetron panjang. Alur ceritanya berulang, pemainnya tidak banyak berubah, dan akhirnya selalu menggantung bak kawat jemuran yang tak kunjung putus.
Yang patut dicermati bukan lagi persoalan keaslian dokumen, yang merupakan ranah hukum dan kampus, melainkan bagaimana media dan publik bereaksi serta menari di atas panggung kontroversi ini dengan irama yang kadang heroik, kocak, dan tragis.
Dari kacamata jurnalisme humanistik, drama ini sesungguhnya adalah cermin bagaimana bangsa ini memandang pendidikan, moralitas, dan hubungan antar manusia. Mari kita kupas dengan pisau analisis yang tajam namun tetap objektif.
Kritik terhadap Sistem Pendidikan: Gelar Dianggap Sebagai Stiker Status
Dalam pusaran pemberitaan ini, esensi pendidikan telah bergeser. Proses memanusiakan manusia berubah menjadi perlombaan menebak keaslian tinta dan kertas. Perhatian media dan publik lebih tertuju pada analisis font, tanda tangan, dan warna dokumen, alih-alih membahas kualitas kepemimpinan dan kompetensi.
Realitas humanistiknya adalah, kita hidup di negeri yang mengagungkan meritokrasi, namun justru sibuk menjadikan ijazah sebagai "surat sakti" penentu kualitas seseorang. Pendidikan akhirnya bukan lagi tentang kompetensi, melainkan status sosial. Media lebih giat membongkar arsip fotokopi daripada mengungkap ketimpangan dalam sistem pendidikan nasional. Jika pendidikan adalah cermin bangsa, maka pemberitaan ini menunjukkan bahwa cermin itu retak, dan kita sibuk saling menyalahkan alih-alih memperbaikinya.
Artikel Terkait
Menteri Bawa Bantuan, Sekolah Korban Banjir Aceh Tamiang Kembali Berdenyut
Nadiem Terdakwa Korupsi Chromebook, Negara Rugi Rp 2,18 Triliun
Jus Jeruk Bukan Satu-satunya: 4 Minuman Ini Lebih Kaya Vitamin C
Menteri Hukum Tegaskan KUHP Baru: Ini Produk Politik, Tak Bisa Memuaskan Semua Pihak