Dugaan Ijazah dalam Sorotan: Sebuah Kritik Humanistik terhadap Media dan Masyarakat
Ditulis oleh: Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa
Pemberitaan mengenai dugaan ijazah Presiden Joko Widodo telah berlangsung layaknya sinetron panjang. Alur ceritanya berulang, pemainnya tidak banyak berubah, dan akhirnya selalu menggantung bak kawat jemuran yang tak kunjung putus.
Yang patut dicermati bukan lagi persoalan keaslian dokumen, yang merupakan ranah hukum dan kampus, melainkan bagaimana media dan publik bereaksi serta menari di atas panggung kontroversi ini dengan irama yang kadang heroik, kocak, dan tragis.
Dari kacamata jurnalisme humanistik, drama ini sesungguhnya adalah cermin bagaimana bangsa ini memandang pendidikan, moralitas, dan hubungan antar manusia. Mari kita kupas dengan pisau analisis yang tajam namun tetap objektif.
Kritik terhadap Sistem Pendidikan: Gelar Dianggap Sebagai Stiker Status
Dalam pusaran pemberitaan ini, esensi pendidikan telah bergeser. Proses memanusiakan manusia berubah menjadi perlombaan menebak keaslian tinta dan kertas. Perhatian media dan publik lebih tertuju pada analisis font, tanda tangan, dan warna dokumen, alih-alih membahas kualitas kepemimpinan dan kompetensi.
Realitas humanistiknya adalah, kita hidup di negeri yang mengagungkan meritokrasi, namun justru sibuk menjadikan ijazah sebagai "surat sakti" penentu kualitas seseorang. Pendidikan akhirnya bukan lagi tentang kompetensi, melainkan status sosial. Media lebih giat membongkar arsip fotokopi daripada mengungkap ketimpangan dalam sistem pendidikan nasional. Jika pendidikan adalah cermin bangsa, maka pemberitaan ini menunjukkan bahwa cermin itu retak, dan kita sibuk saling menyalahkan alih-alih memperbaikinya.
Kritik terhadap Pembangunan Moral: Moralitas Dijadikan Komoditas Politik
Dalam drama ini, moralitas telah menjelma menjadi komoditas. Tuduhan, benar atau tidak, menjadi bahan bakar bagi moralitas instan. Media dan komentator bertindak layaknya pedagang di pasar moral, menawarkan "produk" mereka yang dianggap lebih murah dan lebih menusuk.
Tanpa menunggu keputusan resmi, sebagian publik telah bertindak sebagai hakim dadakan yang haus tontonan. Moralitas dijadikan perlombaan: siapa yang paling cepat menuding. Wacana publik bergeser dari memahami kompleksitas manusia menjadi pertarungan menentukan siapa yang paling tidak bermoral. Padahal, membangun moral bangsa tidak bisa dilakukan dengan memamerkan kecurigaan, melainkan melalui penanaman budaya kejujuran dalam sistem pendidikan, bukan sekadar menjadikan isu ini sebagai "teater penghakiman".
Kritik terhadap Hubungan Sosial: Polarisasi yang Semakin Mengkhawatirkan
Aspek yang paling terdampak dari kontroversi semacam ini adalah hubungan sosial antar manusia. Setiap kontroversi nasional dengan cepat berubah menjadi pertandingan gladiator di dunia online, dan isu ini tidak terkecuali.
Akibatnya, keluarga bisa terpecah bukan karena masalah ekonomi, tetapi karena perbedaan pandangan dalam menganalisis tanda tangan digital. Pertemanan retak bukan karena utang piutang, melainkan karena beda pendapat soal normal tidaknya tampilan kertas ijazah. Media sosial berubah menjadi arena debat dimana manusia melupakan bahwa subjek yang mereka perdebatkan juga adalah manusia. Jurnalisme humanistik mengingatkan kita bahwa hubungan sosial harus dijaga, bukan dijadikan korban dari debat tanpa ujung.
Penutup: Refleksi atas "Perseteruan Tentang Sepotong Kertas"
Jika pemberitaan dugaan ijazah ini diangkat menjadi sebuah naskah teater, sinopsisnya akan berbunyi: "Sebuah bangsa besar, dengan persoalan pendidikan yang kompleks, moralitas publik yang rapuh, dan polarisasi yang kronis, memilih untuk menjadikan selembar kertas sebagai pusat orbit seluruh emosinya."
Pelajaran humanistik yang dapat diambil sederhana namun mendalam: manusia lebih penting daripada kertas, dialog lebih bermakna daripada tudingan, dan empati lebih bernilai daripada sensasi.
Benz Jono Hartono adalah seorang Praktisi Media Massa yang aktif di berbagai organisasi jurnalis.
Artikel Terkait
BMKG Pastikan Gempa Kuat di Fiji Tak Picu Ancaman Tsunami bagi Indonesia
Kementerian Pertanian Pastikan Harga Ayam di Pasar Minggu Masih Sesuai Acuan
Pakar APINDO Ingatkan KUHP Baru Bisa Tak Efektif Jika Penegak Hukum Bermasalah
IKA Unhas Salurkan 22 Ton Beras untuk Program Ramadhan