Tangannya tergeletak lemas, setengah menggenggam HP menyala, memutar video. Mulut Kurnia menganga. Lelehan liur keluar daripadanya.
Serupa bison, mata Puji berangsur memerah, napasnya menderu, digenjot amarah. Lebih-lebih mendengar keras dengkur suami yang menggergaji telinga.
***
Puji menyeret tubuh besarnya, masuk kantor. Dihempaskan tas dan jaket ke kursi. Matanya memburu jam dinding. Senyumnya menyeruak, mendapati angka tertera.
Usai memakai sepatu, perempuan empat puluh tahun itu keluar. Berselang detik, ada sepeda motor masuk halaman sekolah, berhenti di dekat Puji.
“Waaah ... Bu Puji selalu datang paling awal,” ucap perempuan kurus berbaju ungu. Dia turun dari sepeda motor, mengangsurkan tangan. Disusul anaknya yang
dibungkus pakaian merah-putih.
“Saya senang di sekolah ini ada guru seperti Bu Puji. Rajin ... semangat ... Lila beruntung diajar guru seperti Bu Puji.”
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: suaramerdeka.com
Artikel Terkait
Pesan Cinta Denada untuk Ressa di Tengah Gugatan Rp7 Miliar
Tangis Reza Arap dan Sirine di Balik Pintu Apartemen Essence
Fico Fachriza Buka Suara: Saya Dulu Manipulatif, Sekarang Cari Cuan
Misteri Kematian Lula Lahfah, Selebgram Multitalenta yang Ditemukan di Apartemen Mewah