Sabtu lalu, langit di atas pegunungan Leang-Leang mendadak sunyi. Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Makassar, hilang kontak. Kini, pesawat itu dikonfirmasi jatuh di kawasan terjal Bulusaraung, di perbatasan Pangkep dan Maros.
Di tengah kerumitan operasi pencarian, ada seorang ayah yang memilih untuk menunggu. Bambang Muchwanto, datang jauh-jauh dari Malang, kini bertahan di Makassar. Ia menanti kabar tentang anak sulungnya, Dwi Murdiono, yang berada di pesawat naas itu.
Perjalanan panjang itu ditempuhnya bersama anak ketiganya, Tarmizi, sejak Minggu siang. Bayangkan saja, hampir 900 kilometer jaraknya. Sampai di Kota Daeng sekitar pukul delapan malam, Bambang langsung menuju Dokkes Polda Sulsel di Jalan Kumala. Di sana, sampel DNA-nya diambil. Tapi setelah proses itu selesai, ia tak bergeming. Dia memutuskan untuk tetap tinggal.
“Saya berangkat dari rumah siang tadi, sampai di Makassar malam,” katanya, suaranya hampir tak terdengar. “Saya nunggu di sini dulu, sampai anak saya ditemukan.”
Ceritanya, kabar buruk itu pertama kali sampai kepadanya dari seorang teman. Waktu itu Sabtu sore, sekitar pukul dua. Sejak detik itu, hidupnya seolah berhenti. Harapan dan kecemasan berbaur jadi satu.
“Setelah itu saya cuma bisa nunggu. Semoga anak saya selamat,” ucap Bambang.
Namun begitu, tekadnya sudah bulat. Ia merasa tak mungkin pulang sebelum ada kepastian. “Percuma datang jauh-jauh kalau cuma ambil sampel DNA,” harapnya. Ada kebanggaan terselip di balik dukanya. Dari keempat anaknya, hanya Dwi yang mengikuti jejaknya di dunia penerbangan sebagai engineer. Bambang sendiri sudah pensiun sejak masa pandemi. Kini, di tengah kabut yang menyelimuti gunung, yang ia inginkan sederhana: “Saya cuma ingin anak saya ditemukan.”
Di sisi lain, upaya tim SAR gabungan terus berlanjut di medan yang sangat sulit. Dari Posko Tompo Bulu, Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, memberikan perkembangan.
“Hari ini tim kita, selain berhasil mengevakuasi beberapa puing, rupanya tadi… sudah ditemukan satu korban,” kata Bangun kepada awak media.
Ia menjelaskan, korban ditemukan tak jauh dari serpihan pesawat di puncak Gunung Bulusaraung, tepatnya di sebelah utara, di sebuah jurang. Medannya ekstrem. Posisi tim berada di ketinggian 1.353 meter, dengan visibilitas yang buruk akibat kabut.
“Kondisi korban kami belum bisa menyampaikan di sini,” ungkapnya. “Yang jelas ini butuh effort yang cukup keras karena memang kondisi luar biasa, cukup tertutup, dan sangat sulit.”
Proses evakuasi korban menuju Posko AJU di Tompo Bulu masih terus dilakukan. Jika berhasil, korban akan langsung dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk identifikasi lebih lanjut. Proses pencocokan DNA akan dibantu oleh sampel yang telah diberikan keluarga, termasuk dari Bambang.
Sementara helikopter berputar-putar di atas dan tim merayap di lereng curam, seorang ayah di Makassar masih menunggu. Menatap jalan, berharap ada kabar baik yang datang menghampiri.
Artikel Terkait
Yenny Wahid Akui Salah Dress Code di Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju
Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, Sebut Ahmad Dhani Sahabat dan Kader Gerindra
Vokalis For Revenge Hentikan Konser di Yogyakarta demi Evakuasi Penonton Pingsan
El Rumi Resmi Nikahi Syifa Hadju di Jakarta, Ijab Kabul Satu Napas