Studi: Terlalu Banyak Mainan Bikin Anak Mudah Alih Perhatian

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:36 WIB
Studi: Terlalu Banyak Mainan Bikin Anak Mudah Alih Perhatian

Memiliki banyak mainan di rumah kerap dianggap memberi anak lebih banyak pilihan untuk bermain. Namun, sebuah studi menemukan bahwa terlalu banyak pilihan justru membuat anak lebih mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Infant Behavior and Development berjudul "The Influence of the Number of Toys in the Environment on Toddlers' Play" mengamati perilaku balita saat bermain dengan jumlah mainan yang berbeda. Hasilnya, ketika hanya tersedia empat mainan, anak cenderung bermain lebih lama dan mengeksplorasi mainan dengan lebih beragam dibandingkan ketika tersedia 16 mainan.

Fokus Anak Lebih Terjaga dengan Sedikit Mainan

Terlalu banyak pilihan membuat perhatian anak mudah teralihkan. Sebaliknya, jumlah mainan yang lebih sedikit memberi kesempatan untuk mengeksplorasi benda di hadapannya secara lebih mendalam. Dengan pilihan terbatas, anak dapat lebih fokus pada satu mainan, mencoba berbagai cara menggunakannya, bertahan bermain lebih lama, serta menggunakan imajinasi dalam menciptakan permainan.

Bukan Berarti Anak Tak Boleh Punya Banyak Mainan

Temuan ini bukan berarti orang tua dilarang membelikan anak mainan. Anak tetap membutuhkan variasi pengalaman bermain. Salah satu cara agar mainan memberi manfaat optimal adalah dengan merotasi mainan secara berkala. Selain jumlah, jenis mainan juga perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), orang tua dapat memilih mainan yang mendukung kemampuan anak sesuai usianya. Untuk usia 0–2 tahun, mainan dengan warna, tekstur, dan bunyi membantu stimulasi sensorik serta motorik. Pada usia 3–6 tahun, mainan yang mendorong eksplorasi, imajinasi, kreativitas, dan kemampuan bermain bersama lebih disarankan. Sementara untuk usia 7–10 tahun, mainan yang melatih kreativitas, ketangkasan, dan kemampuan berpikir menjadi pilihan tepat. Adapun usia 10–13 tahun, mainan atau permainan yang mengasah logika, strategi, pemecahan masalah, serta kemampuan mengelola emosi lebih diutamakan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags