Pernahkah Anda melihat si kecil asyik bermain sendiri di dekat teman-temannya, seolah tenggelam dalam dunianya sendiri? Misalnya, satu anak sibuk menyusun balok sementara anak lain di sebelahnya bermain mobil-mobilan. Meski berada berdekatan, keduanya tidak benar-benar bermain bersama. Mereka mungkin saling memperhatikan atau meniru permainan, tetapi belum memiliki tujuan yang sama, bergantian, atau bekerja sama. Kondisi ini dikenal sebagai parallel play atau bermain paralel.
Psikolog Anak, Fabiola Priscilla, M.Psi, menjelaskan bahwa parallel play adalah salah satu tahap bermain ketika anak bermain di dekat anak lain, tetapi belum sepenuhnya terlibat dalam permainan bersama. "Jadi, anak yang tampak 'main sendiri padahal ada teman di sebelahnya' belum tentu mengalami masalah sosial. Justru keberadaan dan kesadaran terhadap anak lain merupakan bagian dari proses belajar sosial. Kemenkes juga memasukkan parallel play sebagai salah satu tahapan bermain anak," ucap Fabiola saat dihubungi kumparanMOM, Jumat (21/8).
Kapan Parallel Play Terjadi?
Parallel play umumnya terlihat jelas pada usia toddler, terutama sekitar 2–3 tahun. Pada usia 2 tahun, anak masih banyak bermain di samping anak lain. Memasuki usia sekitar 30 bulan, anak mulai mampu bermain di dekat anak lain dan sesekali mulai bermain bersama. Sementara sekitar usia 3 tahun, anak semakin memperhatikan teman sebaya dan perlahan belajar bergabung dalam permainan. Namun, orang tua tidak perlu terpaku pada batas usia tersebut. Setiap anak berkembang dengan kecepatannya masing-masing.
"Yang penting, tahapan ini tidak memiliki batas yang kaku. Anak bisa masih melakukan parallel play sambil perlahan mulai belajar bermain bersama," tegas Fabiola.
Tanda Parallel Play yang Masih Wajar
Menurut Fabiola, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah anak mau bermain bersama teman atau tidak. Orang tua juga perlu melihat keseluruhan pola perkembangan anak dari waktu ke waktu. Beberapa hal yang masih tergolong wajar, antara lain: anak nyaman berada di dekat anak lain; sesekali memperhatikan atau meniru permainan anak lain; mampu berkomunikasi dengan orang tua atau pengasuh sesuai usianya; menunjukkan minat terhadap lingkungan sekitar; mulai muncul interaksi secara bertahap, misalnya memberikan benda, meniru permainan, mengejar bersama, atau sesekali mengajak anak lain bermain; serta perkembangan bahasa, motorik, kognitif, dan emosional yang berjalan sesuai tahap usianya.
Dengan kata lain, parallel play bukan sekadar tentang anak yang belum mau bermain bersama. Tahap ini juga menjadi bagian dari proses si kecil belajar mengamati, mengenal keberadaan orang lain, dan perlahan membangun kemampuan sosialnya. Jadi, bila si kecil masih asyik bermain sendiri meski berada di tengah teman-temannya, Anda tak perlu langsung khawatir.
Artikel Terkait
Perilaku Anak Usia 3 Tahun yang Sering Bikin Orang Tua Bingung, Ini Penjelasannya
Studi: Terlalu Banyak Mainan Bikin Anak Mudah Alih Perhatian