Kulit Tetap Kering Meski Rajin Minum Air Putih? Dokter Tirta Ungkap Penyebabnya

- Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:50 WIB
Kulit Tetap Kering Meski Rajin Minum Air Putih? Dokter Tirta Ungkap Penyebabnya

Banyak orang menganggap memperbanyak minum air putih sebagai solusi utama menjaga kelembapan kulit. Kebiasaan ini kerap dilakukan, terutama saat cuaca panas, karena tubuh dinilai membutuhkan lebih banyak cairan agar kulit tidak kering.

Namun, kulit yang tetap terasa kering meski sudah rajin minum air putih bisa terjadi karena faktor lain. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa kondisi kulit tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah air yang dikonsumsi, tetapi juga lingkungan sekitar.

Melalui unggahan video di kanal YouTube miliknya, dr Tirta mengatakan tingkat kelembapan kulit sangat berkaitan dengan kondisi udara. Faktor seperti suhu, tingkat kelembapan udara (humidity), hingga kecepatan angin dapat memengaruhi kondisi permukaan kulit.

"Kulit lembab tidaknya kulit itu sangat tergantung dengan situasi udara luar. Ini kamu kalau lihat di dalam HP, mau Android atau iPhone, kamu geser. Ada namanya humidity dan suhu. Kalau humidity-nya itu lembap banget, misal di atas 80 persen, jadi udaranya ini banyak air. Gerah, cepat berminyak, keringetan, gak menguap-menguap," kata dr. Tirta, dikutip Sabtu (1/8/2026).

Sebaliknya, ketika tingkat kelembapan udara rendah, kulit akan lebih mudah kehilangan cairan. Udara yang kering membuat kulit ikut terasa kering karena tidak mendapatkan cukup kelembapan dari lingkungan.

"Tapi kalau kelembabannya di bawah 50 persen, kering udaranya, otomatis, kulit kita jadi ikut kering. Jadi, situasi apa yang terjadi pada kulit kita, itu dipengaruhi sangat krusial dengan environment atau lingkungan sekitar. Temperatur, humidity, dan angin," katanya.

Meski begitu, dr Tirta menyebut dehidrasi tetap menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan kulit menjadi sangat kering. Kekurangan cairan membuat tubuh kesulitan menjaga keseimbangan cairan, termasuk pada jaringan kulit.

Dia membagikan cara sederhana untuk mengecek kondisi dehidrasi melalui kuku. Caranya dengan menekan bagian kuku dan melihat apakah warna kemerahan kembali dalam waktu sekitar tiga detik.

"Apakah dehidrasi bisa menyebabkan pengerutan kulit? Betul. Dehidrasi itu bisa menyebabkan kulitnya jadi kering banget. Jadi, ini contoh ngeceknya, ini kuku dipencet kalau merah-merahnya gak kembali dalam tiga detik, situasinya berarti dehidrasi," ujar dr Tirta.

Selain memastikan asupan cairan cukup, dr. Tirta mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh, terutama ketika berada di lingkungan dengan udara panas atau kering.

Menurutnya, konsumsi air putih saja tidak selalu cukup apabila kondisi lingkungan membuat tubuh kehilangan banyak cairan.

"Nah kalau kamu minum air putih tapi kelembaban udara luar sangat kering, ya tetap kering. Minumnya bukan hanya air putih, tetapi air-air yang mengandung elektrolit. Jadi harus seimbang. Kalau air putih tok, ya tubuh akan keluarin, jadinya kencing," kata dr. Tirta.

Dengan demikian, menjaga kulit tetap lembap tidak hanya bergantung pada jumlah air putih yang diminum. Memperhatikan kondisi lingkungan, memenuhi kebutuhan cairan, serta menjaga keseimbangan elektrolit menjadi bagian penting untuk membantu kesehatan kulit.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags