“Akhirnya kita putuskan untuk nginap aja dan langsung di tes. Namanya tes ASTO. Nah tes ASTO itu adalah tes untuk membuktikan. Kalau memang ini disebabkan oleh bakteri streptococcus. Dan ternyata memang positif dan ASTO nya itu sekitar 400. Jadi menurut dokter itu tinggi,”
imbuhnya, mengenang mencekam itu.
Perjalanan Panjang dan Kewaspadaan Baru
Kecemasan bertambah saat anaknya mengeluh nyeri di dada. Dokter langsung memberi obat jantung sebagai langkah pencegahan. Meski si anak tetap aktif dan makannya baik, gejala aneh terus muncul. Wajahnya bengkak, biduran merambat ke tangan dan kaki. Tes darah ulang tetap menunjukkan hal yang sama: bukan alergi.
Dari sinilah Theresa dapat pengetahuan baru yang mengejutkan. Ternyata, dalam setahun pertama setelah infeksi streptococcus, risiko kambuh bisa mencapai 80 persen. Infeksi ulang akan meningkatkan ancaman komplikasi ke jantung dan organ lain secara drastis. Itulah sebabnya anaknya harus menjalani suntik antibiotik rutin setiap bulan, dan itu akan berlangsung selama lima tahun ke depan.
“Jadi kan memang saya tanya juga ada pilihan lain gak sih dok selain suntik gitu. Nah terus dokter bilang sebetulnya ada yaitu obat minum gitu kan. Tapi kalau minum itu harus diminum setiap hari dan sehari dua. Nah akhirnya sekarang anaknya memilih untuk suntik sih. Dia sudah berdamai dengan suntikannya,”
kata Theresa.
Masa-masa awal tentu berat secara emosional. Tapi doa dan sikap anaknya yang kooperatif memberi Theresa kekuatan. Ia pun membagikan kisah ini di media sosial. Banyak respons dari orang tua lain yang punya pengalaman serupa, bahkan ada yang sampai kena ginjal.
Pelajaran utamanya jelas: jangan pernah anggap enteng radang tenggorokan. Dampaknya bisa muncul satu hingga dua minggu setelah gejala awal hilang. Waspadai tanda-tanda seperti sariawan, lidah yang merah seperti stroberi, sendi bengkak, atau nyeri yang tidak biasa.
Kini, anaknya sudah sehat dan ceria. Perjalanan pengobatan masih panjang, lima tahun bukan waktu singkat. Tapi ia tidak berjalan sendirian. Dukungan keluarga, itulah yang membuat mereka tetap kuat dan semangat menjalani semuanya.
Artikel Terkait
Sambut Imlek 2026 dengan Lima Ide Seru Penuh Makna
Menghadapi Badai Emosi Balita: Kisah Nyata Para Ibu Lewati Fase Terrible Two
Malam Pengampunan: Doa dan Amalan Istimewa di Nisfu Syaban 2026
Skincare dan Kosmetik Laris Manis Menyambut Ramadan