Sejumlah ekonom menilai pengajuan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) merupakan keputusan yang rasional dari Presiden Prabowo Subianto. Pengalaman panjang Destry di sektor perbankan, pasar keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga BI dinilai mampu membuat transisi kepemimpinan bank sentral berjalan mulus.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan Destry adalah kandidat yang relatif aman bagi pemerintah karena memiliki rekam jejak panjang di sektor keuangan. "Destry merupakan pilihan yang paling aman bagi Presiden Prabowo. Selain mempunyai pengalaman di BI, LPS, Bank Mandiri, dan sebelumnya adalah Deputy Senior Gubernur BI, ia merupakan kandidat yang bisa diterima pasar dan mempunyai fleksibilitas untuk melakukan koordinasi dengan Pemerintah terkait berbagai kebijakan ekonomi," ujarnya kepada kumparan, Senin (10/8).
Menurut Wijayanto, tantangan utama yang akan dihadapi Destry ke depan adalah memastikan independensi BI tetap terjaga. Hal ini menjadi penting di tengah kebutuhan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menghadapi berbagai tekanan terhadap kondisi fiskal serta perekonomian nasional. Ia juga menyoroti kondisi fiskal dan daya saing ekonomi yang dapat berdampak pada neraca pembayaran dan nilai tukar rupiah. Dinamika global dan potensi politisasi bank sentral menjadi tantangan lain yang perlu diantisipasi.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai Destry memiliki kredibilitas yang cukup kuat di mata pelaku pasar. Pengalamannya di BI dan sektor perbankan menjadi modal penting untuk menjalankan kebijakan moneter ke depan. David mengatakan pengalaman Destry di berbagai sektor keuangan membuatnya memahami kondisi pasar secara lebih luas. Pengalaman teknokratik tersebut akan membantu Destry menghadapi dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
"Ya, saya pikir beliau sudah berpengalaman juga di Bank Indonesia ya. Dan di mata pasar ya cukup kredibel, di pasar keuangan sudah pernah di perbankan juga, pernah di pasar modal juga kan ya, jadi mengerti betul kondisi di pasar keuangan," kata David.
David menekankan koordinasi antara pemerintah dan BI harus berjalan dengan tetap menjaga independensi bank sentral, khususnya dalam menentukan kebijakan moneter. Ia juga mengingatkan tantangan eksternal masih cukup besar. Ketidakpastian global, tensi geopolitik, hingga potensi tekanan inflasi domestik menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan arah kebijakan BI. "Ya tetap kondisi moneter ini kan sebenarnya juga tidak terlepas dari kondisi eksternal ya, nah eksternalnya ini kan kita lihat kan masih cukup volatile, kondisi geopolitik tensinya masih cukup tinggi," ujarnya.
Selain faktor eksternal, risiko inflasi domestik juga perlu menjadi perhatian. David menilai potensi El Nino dapat memberikan tekanan terhadap harga pangan sehingga perlu diantisipasi agar inflasi tetap terkendali. "Terus juga inflasi dalam negeri juga jadi tantangan apalagi kita mau kabarnya dan juga kita ada kemungkinan mengalami El Nino gitu kan, jadi bagaimana menjaga supaya inflasi itu tetap manageable tetap rendah ya," katanya.
Transisi Dinilai Bisa Berjalan Mulus
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pengalaman Destry sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 serta sebagai pejabat sementara Gubernur BI membuat proses transisi kepemimpinan dapat berlangsung relatif mulus. Menurutnya, pasar cenderung melihat tidak akan terjadi perubahan mendadak dalam arah kebijakan BI, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Meski demikian, Yusuf menilai status sebagai calon tunggal memiliki sisi lain. Kepastian pencalonan memang dapat mengurangi spekulasi di pasar, tetapi ruang untuk membandingkan alternatif kepemimpinan menjadi lebih terbatas. Menurutnya, tantangan Destry bukan lagi terletak pada kapasitas teknis, melainkan bagaimana menjaga independensi BI ketika pemerintah membutuhkan dukungan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Penguatan rupiah setelah pengumuman pencalonan Destry menunjukkan respons awal pasar yang positif. Namun, kepercayaan tersebut akan diuji melalui keputusan konkret BI, terutama terkait suku bunga, stabilisasi nilai tukar, dan pengelolaan likuiditas.
Senada, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menilai pencalonan Destry sebagai Gubernur BI merupakan pilihan rasional untuk menjaga kelancaran transisi kepemimpinan. Menurut Eko, penunjukan figur yang sudah berpengalaman di BI dapat meminimalkan spekulasi di pasar keuangan. Terlebih, pemerintah dalam waktu dekat akan menyampaikan Nota Keuangan RAPBN 2027.
Eko menilai Destry memiliki rekam jejak yang memadai untuk memimpin BI, tetapi ia menekankan tantangan terbesar Gubernur BI selanjutnya adalah menjaga independensi. Kebijakan moneter harus tetap didasarkan pada analisis objektif terhadap kondisi ekonomi, bukan tekanan politik. "Setidaknya secara rekam jejak dan pengalaman Bu Destry memiliki kualifikasi tersebut dan ini merupakan modal kuat meyakinkan pasar," kata Eko.
Selain independensi, Eko mengingatkan agar kebijakan moneter BI ke depan tidak memberikan kesan sebagai kebijakan kuasi fiskal. Menurutnya, persepsi tersebut dapat menyulitkan upaya BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Artikel Terkait
Pemerintah Usulkan Destry Damayanti sebagai Calon Gubernur BI
Rupiah Menguat ke Rp17.755 per Dolar AS, Dipicu Harapan Pembukaan Selat Hormuz
Pemerintah Ajukan Destry Damayanti sebagai Calon Tunggal Gubernur BI
Rupiah Menguat Usai Pemerintah Kirim Surpres Calon Gubernur BI