BPS: Produksi Beras Januari–September 2026 Diprediksi Naik Tipis 0,01 Persen

- Senin, 03 Agustus 2026 | 14:42 WIB
BPS: Produksi Beras Januari–September 2026 Diprediksi Naik Tipis 0,01 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 28,71 juta ton. Angka ini meningkat tipis sebesar 0,003 juta ton atau 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan produksi beras sejalan dengan proyeksi produksi padi yang mencapai 49,84 juta ton gabah kering giling (GKG) pada periode yang sama. Meski demikian, peningkatan tersebut relatif terbatas karena potensi produksi pada beberapa bulan mendatang masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, produksi beras pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 2,47 juta ton atau meningkat 6,9 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 2,31 juta ton. Adapun potensi produksi beras pada Juli hingga September 2026 diperkirakan sebesar 9,36 juta ton atau turun 0,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Dengan demikian, maka produksi beras sepanjang Januari sampai dengan September tahun 2026 diperkirakan mencapai 28,71 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 0,003 juta ton atau meningkat 0,01 persen dibandingkan dengan rindu yang sama di tahun 2025,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (3/8).

Mayoritas Lahan Masih Ditanami Padi

Proyeksi produksi tersebut didasarkan pada hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) yang dilakukan BPS pada Juni 2026. Hasil pengamatan menunjukkan mayoritas lahan pertanian masih berada pada fase ditanami padi atau standing crop sehingga masih berpotensi dipanen dalam beberapa bulan ke depan.

Sebanyak 40,27 persen lahan pertanian berada pada fase standing crop. Sementara itu, 28,89 persen lahan ditanami selain padi, 11,78 persen sedang diberakan, 10,66 persen telah dipanen, dan 8,16 persen berada dalam tahap persiapan lahan.

“Hasil amatan Survei KSA pada Juni 2026 memperlihatkan bahwa mayoritas lahan pertanian sedang dalam fase ditanami padi atau standing crop yaitu sekitar 40,27 persen,” ungkapnya.

BPS juga mencatat sebagian besar tanaman padi berada pada fase generatif yang umumnya akan dipanen satu bulan berikutnya. Sementara tanaman pada fase vegetatif akhir diperkirakan dipanen dua bulan ke depan dan fase vegetatif awal dipanen sekitar tiga bulan berikutnya.

Pada Juni 2026, luas panen padi diperkirakan mencapai 0,84 juta hektare atau meningkat 6,93 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 0,79 juta hektare.

Sementara itu, potensi luas panen pada Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 3,15 juta hektare atau turun 1,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, luas panen padi sepanjang Januari hingga September 2026 diperkirakan mencapai 9,46 juta hektare atau naik tipis 0,11 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Sejalan dengan perkembangan luas panen, produksi padi pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 4,29 juta ton GKG atau meningkat 7,02 persen dibandingkan Juni tahun lalu. Adapun potensi produksi padi pada Juli hingga September diperkirakan sebesar 16,25 juta ton GKG atau turun 0,90 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dengan demikian, produksi padi sepanjang Januari hingga September 2026 diperkirakan mencapai 49,84 juta ton GKG atau naik tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ateng mengingatkan bahwa seluruh angka potensi tersebut masih dapat berubah bergantung pada kondisi pertanaman dalam beberapa bulan ke depan.

“Sekali lagi, kami sampaikan bahwa angka potensi luas panen dapat berubah sesuai dengan kondisi terkini hasil amatan. Seperti yang sudah disebutkan pada saat ada serangan Hama atau OPT, ada banjir, ada kekeringan, dan juga pada saat realisasi panen petani mengalami perubahan,” kata dia.

BPS memetakan potensi panen padi pada Juli hingga September 2026 masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten. Di luar Jawa, potensi panen terbesar berada di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Pada tingkat kabupaten, daerah yang diperkirakan memiliki potensi panen besar antara lain Kebumen, Grobogan, Demak, Cilacap, Karawang, Majalengka, Subang, Indramayu, Ngawi, Lamongan, Nganjuk, Jember, Lebak, Banyuasin, Lampung Tengah, OKU Timur, Ogan Komering Ilir, Tulang Bawang, Bone, Wajo, Sidrap, Pinrang, dan Barito Kuala.

Produksi Jagung Diperkirakan Turun

Selain padi, BPS juga melaporkan perkembangan jagung pipilan. Luas panen jagung pipilan pada Juni 2026 mencapai 0,25 juta hektare, lebih rendah dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 0,26 juta hektare.

Potensi luas panen jagung pada Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 0,67 juta hektare atau turun 4,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan demikian, total luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga September 2026 diperkirakan mencapai 2,17 juta hektare atau turun 1,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan juga terjadi pada sisi produksi. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 1,50 juta ton, lebih rendah dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 1,55 juta ton. Adapun potensi produksi pada Juli hingga September diperkirakan sebesar 3,98 juta ton atau turun 6,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, produksi jagung pipilan kering sepanjang Januari hingga September 2026 diperkirakan mencapai 12,67 juta ton atau turun 1,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

“Angka potensi masih dapat berubah, tadi saya sebutkan bergantung pada kondisi terkini hasil amatan lapangan seperti OPT (organisme pengganggu tanaman), banjir, kekeringan, dan waktu pelaksanaan panen oleh petani,” kata dia.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags