Hungaria akan menghentikan sementara operasional satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada pekan depan. Langkah ini diambil menyusul menurunnya debit air Sungai Danube yang menjadi sumber pendingin reaktor, akibat gelombang panas yang melanda kawasan Eropa Tengah.
PLTN yang berlokasi di Paks ini memasok sekitar 40 persen dari total kebutuhan listrik tahunan Hungaria. Namun, penghentian sementara ini tidak dapat dihindari, apalagi operator telah memberikan peringatan sebelumnya.
“Menurut perhitungan saat ini, penghentian operasi kemungkinan terjadi pada Selasa (4/8) atau Rabu (5/8),” ujar Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar, Sabtu (1/8). Sebelum dihentikan total, kapasitas produksi pembangkit juga telah dikurangi dalam beberapa hari terakhir.
Permukaan air Sungai Danube di sejumlah wilayah telah mencapai titik terendah dalam sejarah. Kondisi ini dipicu oleh minimnya curah hujan serta gelombang panas yang terjadi beruntun sejak Mei lalu.
Hungaria bukan satu-satunya negara yang terdampak. Rumania juga telah menghentikan salah satu reaktor nuklirnya karena alasan serupa dan berencana menutup reaktor kedua.
Penghentian PLTN ini menjadi salah satu dampak dari cuaca panas ekstrem yang memecahkan rekor di Eropa. Sejumlah negara kini mengambil langkah untuk mengurangi risiko kebakaran, menekan beban pasokan air, dan menjaga jaringan energi.
Upaya Penghematan Energi
Pemerintah Hungaria juga meminta pelaku usaha mengurangi konsumsi listrik, melarang aktivitas pembakaran di ruang terbuka, dan mengimbau agar lampu hiasan di gedung-gedung pemerintah dimatikan sebagai bentuk penghematan energi.
Berdasarkan perhitungan ilmuwan data iklim Peter Szabo menggunakan data sementara angka kematian yang dirilis pemerintah, gelombang panas selama 12 hari pada akhir Juni diperkirakan menyebabkan sekitar 304 kematian berlebih (excess deaths) di Hungaria.
Di negara tetangga, Slovakia, pemerintah kota Bratislava telah menyiapkan lebih dari 30 titik pendinginan yang menyediakan ruangan ber-AC dan air minum bagi masyarakat. Sementara itu, badan prakiraan cuaca Slovenia memperingatkan risiko kebakaran hutan yang sangat tinggi di wilayah barat, sehingga berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dilarang.
Rekor Suhu dan Kekeringan
Ahli klimatologi menilai gelombang panas kali ini luar biasa bukan hanya karena suhu tinggi, tetapi juga durasinya yang panjang. Para ahli kelautan memperkirakan suhu air di pesisir Laut Adriatik, Slovenia, berpotensi melampaui rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 30,4 derajat Celsius yang tercatat pada 2010.
Austria juga mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang Juli pada Jumat (31/7), mencapai 40,3 derajat Celsius di Kota Wieselburg. Badan meteorologi nasional Geosphere Austria menyatakan negara tersebut sedang mengalami kekeringan ekstrem, dengan curah hujan sejak awal tahun sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata normal.
Artikel Terkait
Kebun Binatang Praha Siapkan Es dan Air Dingin untuk Beruang Kutub di Tengah Gelombang Panas
Presiden Hungaria Tunduk pada Amandemen, Era Loyalis Orban Berakhir
Gelombang Panas di Jerman Tewaskan Ribuan Orang, Ilmuwan Ungkap Metode Hitungnya
Gelombang Panas Eropa: Belanda Catat 911 Kematian Berlebih, Prancis Lawan Kebakaran Hutan