Konflik AS-Iran hingga Suku Bunga BI Warnai Pergerakan Pasar Pekan Ini

- Senin, 20 Juli 2026 | 07:00 WIB
Konflik AS-Iran hingga Suku Bunga BI Warnai Pergerakan Pasar Pekan Ini

Pekan yang berlangsung pada 20-24 Juli 2026 diprediksi menjadi momen penting bagi investor, dengan sejumlah isu dan agenda yang dapat memengaruhi sentimen pasar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Dari eksternal, eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap harga energi global. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait penguasaan Selat Hormuz, mendorong harga minyak melonjak. Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman September diperdagangkan di atas USD85 per barel pada awal perdagangan Rabu, naik signifikan dari kisaran USD70 per barel pada pekan lalu yang mendekati level sebelum perang.

Lonjakan harga energi ini juga menimbulkan ketidakpastian menjelang rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada 22 Juli. Kenaikan harga minyak memunculkan keraguan bahwa ECB akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

Investor juga mencermati data ekonomi AS yang akan memberikan gambaran kondisi perekonomian menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) bulan ini. Selain itu, musim laporan keuangan kuartal II-2026 turut memengaruhi pergerakan saham di Wall Street, khususnya sektor teknologi.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu (22/7/2026). Keputusan ini menjadi salah satu katalis utama bagi pergerakan rupiah, pasar obligasi, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat lonjakan harga minyak serta arah kebijakan bank sentral dunia.

Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026, BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. BI juga mengerek suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50 persen.

Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) Irman Faiz menilai BI masih memiliki ruang pengetatan kebijakan. Dia memproyeksikan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali hingga level 6,25 persen pada akhir 2026. Namun, ruang pengetatan tersebut sangat bergantung pada volatilitas nilai tukar rupiah dan sentimen global.

“Kalau misalnya tensi geopolitiknya masih berkelanjutan, tapi kalau misalnya tidak harusnya tidak perlu diutilisasi,” ujar dia saat ditemui belum lama ini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags