Pasar Tenaga Kerja AS Melemah, The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:48 WIB
Pasar Tenaga Kerja AS Melemah, The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga

Laporan ketenagakerjaan terbaru Amerika Serikat menunjukkan sinyal perlambatan yang lebih jelas dari perkiraan. Jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian berkurang 23.000 pada Juli, sementara data dua bulan sebelumnya direvisi turun hingga total 103.000. Angka ini mematahkan harapan pasar yang sempat melihat kekuatan pasar tenaga kerja AS pada awal tahun.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) merilis data tersebut pada Jumat (7/8). Di tengah penurunan jumlah pekerja, tingkat pengangguran justru turun ke 4,1 persen, tetapi hal itu terjadi karena semakin sedikit orang yang aktif mencari kerja. Pertumbuhan upah pun melambat, mengindikasikan daya tawar pekerja mulai melemah.

Laporan ini menjadi sinyal penting bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang tengah berupaya menyeimbangkan tekanan inflasi dengan kondisi pasar tenaga kerja. Sebelumnya, belanja konsumen dan investasi bisnis masih menunjukkan ketahanan, tetapi data terbaru ini memberi alasan bagi The Fed untuk menahan diri menaikkan suku bunga.

Reaksi pasar pun langsung terlihat. Saham-saham di Wall Street dibuka menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah turun. Investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada September. Namun, arah kebijakan The Fed masih akan sangat ditentukan oleh data inflasi, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli yang dijadwalkan rilis pekan depan.

“Laporan pasar tenaga kerja yang lemah seharusnya menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan, tetapi laporan inflasi akan menjadi fokus utama para pejabat The Fed,” kata Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, dalam sebuah catatan.

“Jika inflasi tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, maka peluang kenaikan suku bunga akan meningkat,” tambahnya.

Sektor yang Terdampak

Penurunan jumlah pekerja terutama dipicu oleh berkurangnya tenaga kerja di sektor pemerintahan, rekreasi dan perhotelan, serta perdagangan ritel. Sektor swasta justru mencatat penambahan 30.000 pekerja untuk bulan kedua berturut-turut, ditopang oleh layanan kesehatan dan bantuan sosial.

Pemerintah daerah memangkas hampir 60.000 pekerjaan, hampir seluruhnya dari sektor pendidikan. Angka ini dinilai fluktuatif karena banyak guru sementara keluar dari daftar penggajian sebelum kembali saat tahun ajaran baru. Pegawai pemerintah federal juga berkurang.

Di sektor rekreasi dan perhotelan, lapangan kerja turun ke level terendah dalam hampir satu tahun setelah restoran dan bar mengurangi karyawan. Hal ini mengindikasikan Piala Dunia FIFA yang berakhir pada 19 Juli tidak memberikan dorongan signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja seperti yang diperkirakan banyak analis.

Laporan ini juga dirilis di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh sejumlah perusahaan besar sepanjang bulan lalu, termasuk Microsoft Corp, Uber Technologies Inc, dan Visa Inc. Jumlah pekerja di sektor aktivitas keuangan, yang banyak mempekerjakan pekerja kantoran dan dianggap rentan terhadap adopsi kecerdasan buatan (AI), juga turun ke level terendah dalam empat tahun.

Sebaliknya, lapangan kerja di sektor manufaktur dan konstruksi terus meningkat. Banyak ekonom menilai pembangunan pusat data menjadi salah satu pendorong permintaan tenaga kerja konstruksi sepanjang 2026, meskipun pembangunan perumahan masih tertahan akibat tingginya suku bunga.

Partisipasi dan Upah

Tingkat partisipasi angkatan kerja, yakni proporsi penduduk yang bekerja atau aktif mencari kerja, turun menjadi 61,4 persen. Di luar periode pandemi, angka tersebut merupakan yang terendah sejak dekade 1970-an. Untuk kelompok usia produktif 25–54 tahun, tingkat partisipasi memang sedikit meningkat, tetapi masih berada di kisaran level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Pertumbuhan upah juga berada di bawah perkiraan. Rata-rata upah per jam meningkat 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari lima tahun. Para ekonom mencermati dinamika penawaran dan permintaan tenaga kerja terhadap pertumbuhan upah.

Daya beli masyarakat juga diperkirakan menjadi isu penting menjelang pemilu sela pada November, terutama karena perang Iran semakin mendorong kenaikan biaya hidup. Meski sentimen konsumen pulih pada bulan lalu, pandangan masyarakat terhadap kondisi keuangan mereka saat ini masih berada di bawah level beberapa tahun terakhir.

“Pertumbuhan lapangan kerja Juli tergolong lemah. Pelemahan payrolls dan meningkatnya PHK kemungkinan merupakan sinyal yang lebih kuat dibandingkan turunnya tingkat pengangguran, yang justru disebabkan oleh menyusutnya jumlah angkatan kerja. Dikombinasikan dengan proyeksi kami bahwa data CPI pekan depan akan lemah, kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September,” tulis ekonom Bloomberg, Anna Wong, Andrew Sacher, dan Eliza Winger.

Meski demikian, sejumlah data lain yang dirilis pekan ini memberikan gambaran yang lebih positif. ADP Research melaporkan pertumbuhan upah pekerja sektor swasta yang berpindah pekerjaan meningkat pada Juli ke level tertinggi dalam hampir satu tahun. Sementara itu, Bank of America Institute mencatat kenaikan upah dan pertumbuhan lapangan kerja di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah bulan lalu. Indikator rencana perekrutan usaha kecil yang dirilis National Federation of Independent Business (NFIB) juga naik ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.

“Menurut saya, data ini tidak terlihat meyakinkan. Angka-angkanya tidak sejalan dengan kondisi pasar tenaga kerja yang kami lihat secara lebih luas. Jika pasar tenaga kerja memang melemah sedalam yang ditunjukkan laporan Juni dan Juli, kita pasti sudah mendengarnya dari para pejabat The Fed maupun dari kondisi perekonomian secara umum, dan itu tidak terjadi,” ujar Kepala Ekonom Santander US Capital Markets LLC, Stephen Stanley.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags