Warga RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, kini bisa menikmati sayuran segar dengan harga lebih murah berkat keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8. Kebun hidroponik yang berdiri di atas lahan fasilitas umum itu tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga memperkuat solidaritas antarwarga.
Ketua RW 004 Porisgaga Baru, M Amiruddin, mengungkapkan bahwa manfaat KWT Mawar 8 telah dirasakan sejak awal berdiri. Hasil panen dijual dengan harga di bawah pasar agar warga bisa memperoleh sayuran segar tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. “Ini hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” ujarnya saat ditemui di Batuceper, Kota Tangerang.
Tak hanya dijual, sebagian hasil panen juga rutin dibagikan kepada petugas lingkungan. Amiruddin menilai semangat berbagi itu menjadi salah satu nilai tambah yang melekat pada KWT Mawar 8. “Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” katanya.
Setelah kepengurusan RW dibenahi, Amiruddin mulai lebih serius mendukung pengembangan kelompok tani tersebut. Dukungan diberikan mulai dari tambahan pendanaan hingga pembenahan manajemen agar lebih tertata. “Kita support tambahan dana, teman-teman di sini juga aktif semua,” ujarnya.
Menurut dia, keberhasilan KWT Mawar 8 tidak lepas dari semangat gotong royong warga. Banyak masyarakat ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing, meski bukan anggota kelompok tani. “Alhamdulillah semua pihak di sini warga yang punya relasi terlibat untuk lingkungan,” katanya.
Di tengah proses pengembangan, Amiruddin juga berupaya mencari dukungan tambahan agar kebun hidroponik bisa berkembang lebih besar. Salah satu langkah yang diambil adalah menjalin komunikasi dengan Budi, seorang warga yang memiliki koneksi dengan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli. “Kebetulan ada warga kita, Pak Budi, saya dekati beliau, saya bilang, ‘Tolong jangan urus lingkungan orang saja, masukkan ke sini CSR-nya BRI,’” ujarnya.
Permintaan itu akhirnya mendapat respons positif. BRI melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita) memberikan bantuan berupa fasilitas penunjang kebun hidroponik senilai Rp50 juta. “Bantuan dalam bentuk fasilitas, sekitar Rp50 juta dalam bentuk barang,” kata Amiruddin.
Bantuan tersebut sangat membantu pengembangan kebun, terutama karena area itu sebelumnya rawan banjir. Lahan kemudian ditinggikan menggunakan tanah merah agar tanaman tidak mudah rusak saat hujan turun. “Ini tadinya daerah banjir, jadi diuruk semua kemarin mungkin ada 10 truk tanah merah,” ujarnya. Selain itu, berbagai fasilitas penunjang seperti rumah semai, pendopo, dan area pembibitan juga ikut dibangun untuk mendukung aktivitas anggota KWT.
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini, mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman di bidang pertanian saat mulai mengelola lahan kosong tersebut. “Hobinya sebenarnya bukan menanam, saya dulu hobinya mengajar,” katanya. Bersama sejumlah warga, ia belajar menanam secara autodidak. Awalnya mereka hanya menanam kangkung dan beberapa jenis sayuran sederhana sebelum akhirnya berkembang menjadi kebun hidroponik. “Pertama kali kami menanam kangkung dulu, hidroponik ini belum ada,” ujarnya.
Saat ini, KWT Mawar 8 menanam berbagai jenis sayuran seperti caisim, pokcoy, bayam, seledri, hingga sawi pahit. Hasil panen tersebut menjadi salah satu sumber pemasukan kelompok sekaligus membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar. Sekretaris KWT Mawar 8, Lie Vonny, mengatakan keberadaan rumah hidroponik bantuan BRI membuat kapasitas produksi sayuran meningkat dibanding sebelumnya. Meski sudah berkembang, Vonny menegaskan KWT Mawar 8 tetap mempertahankan semangat sosial dan kebersamaan antarwarga. “Kalau panen selalu izin, ‘Bu, boleh gak kami bagi posyandu? Bu, boleh gak kami bagi security?’ jadi kita berbagi,” ujarnya.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa pihaknya terus menegaskan komitmen dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar. “Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujarnya.
Dhanny menyatakan, kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi serta menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini turut mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. “Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi,” ucap Dhanny.
Artikel Terkait
Pemerintah Tunda Insentif Pajak Mobil Listrik, Baru Berlaku Sebulan Lagi
PGN Bagikan Dividen Rp3,04 Triliun, Setara Rp125,61 per Saham pada Akhir Juni 2026
Danantara Pangkas Alokasi Investasi 2026 Jadi Rp212 Triliun Imbas Pelemahan Rupiah
CLEO Akuisisi Aset Pabrik dan Gudang di Cikarang Senilai Rp54,36 Miliar